(Read Pdf) Õ Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang õ eBook or E-pub free

Kalau saya akan membuat sinopsis dari buku yang sudah setahun lebih dinanti sejuta umat ini, maka saya akan menuliskannya seperti ini Ikal telah berhasil menyelesaikan S2 nya di kampus mentereng Sorbonne, Perancis, dan kini kembali ke kampungnya di pedalaman Belitong Tanpa pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya, pemuda ini menjelma menjadi pengangguran kronis Capek terus terusan dikejar target berumahtangga oleh ibundanya, pemuda ini mengalihkan perhatian dengan memulai lagi mengamati lingkungan masyarakat kampungnya Ia mencatat beberapa karakteristik kaum Melayu pedalaman dan etnis lain di kampungnya yang telah mendarah daging hingga berbau busuk tak kepalang Misal memberi julukan julukan seenak jidat pada nama seseorang, membual setinggi langit, sampai bertaruh tak kenal rasio untuk hal hal kecil.Kemudian terdamparlah sesosok mayat bertato kupu kupu di perairan desa mereka, dan Ikal pun menyadari misi hidupnya mencari A Ling masih harus terus ditunaikan Ingat ya, Eropa dan Afrika pun telah dijejakinya demi cinta pertamanya ini Ia pun giat bekerja, jungkir balik mengumpulkan rupiah demi membangun dengan tangannya sendiri sebuah kapal untuk menyeberangi lautan, menggenapi kemungkinan A Ling terdampar di pulau yang dikuasai perompak laut terkejam Dengan segenap bala bantuan, termasuk dari si jenius Lintang yang kini jadi juragan kopra, dan dari dunia gaib yang masih diakrabi Mahar, kapal itu pun selesailah Ikal siap mengarahkan haluan ke Selat Karimata Nah, berhasilkah Ikal menaklukkan kekejian para lanun Akankah ia menjumpai lagi A Ling di pulau loncatan ke Singapura itu Mungkinkah Ikal akhirnya dapat hidup bahagia bersama A Ling Demikianlah sinopsis saya, tanpa emosi, tanpa spoiler Mudah mudahan Tidakkah akan terasa bahwa cerita ini bakalan begitu adventurous, fantastis, bahkan romantis Nyatanya memang begitu, karena demikianlah adanya Petualangan Ikal kembali mengajak pembaca berdebar mengalami sulitnya sidang tesis magister di negeri orang, menjalani rute kembali ke Belitong lewat perjalanan laut dan dikocok jalan kampung dalam bus tua Dendang Ria Suka Suka yang disupiri Bang Zaitun, mantan pemimpin Orkes Melayu Pasar Ikan Belok Kiri Belum lagi nanti ketika Ikal bercucuran keringat membangun kapalnya Bisa jadi kuping ikut panas mendengar celaan orang kampung yang hobi nongkrong sambil berbual dan bertaruh di kedai kopi Pasar Gantong.Andrea Hirata masih fasih menggoreskan untaian kalimat yang berbunga, diksi yang jenaka, serta kata bercabang yang sulit dikira maunya Sedikit sedikit kita dibuatnya terkekeh, walau kadang agak telat Satu peristiwa kadang tidak cukup diungkap lewat satu kalimat S P O K standar, kata kata dilipat hingga sekiranya dijajar akan mencapai pucuk pohon kelapa.Stop dulu Kalau Anda berminat membaca bukunya tapi sampai sekarang belum baca, sebaiknya jangan diteruskan membaca racauan saya di bawah ini Nggak pakai alasan, pokoknya jangan Ntar sedih.Kalau sudah membaca, atau tidak takut ancaman di atas, mari lanjutkan Dinanti nanti sejak buku ketiga Edensor muncul Mei 2007, bagi saya terbitnya buku MK ini menjadi anti klimaks misi kepenulisan seorang Andrea Hirata yang dimulainya dengan karya fenomenalnya Laskar Pelangi Nah lho Kok bisa Ya bisa dong Karena kok isi buku ini jadi kacau tak karuan maunya ke mana.Pertama, dari segi cerita Penuh sekali romansa kampung dan manusia manusianya yang dijejalkan Andrea di buku ini Apakah lagi lagi ini ekspresi penulis yang selalu menyatakan dirinya orang kampung pedalaman atau sekedar sinismenya yang terlanjur akut Banyak pembaca yang terlanjur percaya ucapan pria ikal ini sebelumnya, yaitu bahwa buku ini akan menghadirkan penceritaan mengenai wanita dalam perspektif berbeda Nyatanya, tidak ada tokoh wanita yang signifikan dalam cerita ini Sepak terjang Makcik Maryamah yang katanya pandai mengajari pengunjung kedai kopi bertanding catur macam Anatoly Karpov, hanya muncul di sedikit halaman Nurmi putrinya, cuma sekedar menjadi latar Ikal yang mendadak ingin menguasai satu lagu dengan biola Masih ada Budi Ardiaz, dokter gigi muda dari Jakarta yang ditugaskan di kampung pedalaman Belitong itu Dedikasi dan pilihan hidupnya begitu tajam dipaparkan, namun kebebalan masyarakat kampung yang tidak mau berobat ke kliniknya tidak bisa ditembusnya dengan keramahan dan kerajinan berkebun Ia tetap butuh turun tangannya Ketua Karmun Masih kurang keren Sedangkan A Ling, tokoh yang paling dirindukan oleh Ikal, bukan oleh ibu saya tentunya , memang mendominasi hari hari Ikal melamun di kampung Tapi kebanyakan sebagai bayangan romantisme, bukan tokoh dengan kegiatan riil yang punya action Ini sih lagi lagi cuma sekedar Tokoh Cewek Dengan Potensi Asmara meminjam istilahnya Om Isman di Parodi Film Seru.Kedua, dari segi alur Ini lho, bahayanya sebuah dwilogi, trilogi, tetralogi atau pancalogi Pembaca terutama yang rewel seperti saya pasti masih ingat kejadian di buku buku sebelumnya Kenapa belasan tahun lalu Ikal saat berpisah dengan A Ling, diceritakan bahwa gadis itu pergi ke Jakarta menemani bibinya dalam LP, lalu bisa bisanya dicari seantero Eropa dan Afrika dalam Edensor , sekarang kok tahu tahu katanya terdampar di antah berantah begitu Tadinya juga, saat diceritakan dalam LP bahwa Lintang masih miskin dan jadi supir truk tambang, Mahar sudah berhenti aktif di dunia sesat dan menjadi seniman lurus Mengapa sekarang saat Lintang sudah jadi juragan kopra, Mahar ternyata masih menguasai dunia bau menyan itu Paradoks sekali.Ketiga, segi tuturan Oke, Ikal orang Melayu yang sejak bisa berucap sudah biasa berpanjang panjang kata Saking panjangnya, karena kebanyakan jadi pusing Jadi hiperbolis Episode Dendang Ria Suka suka, misalnya Perlukah sebanyak itu intro untuk memulai kegiatan Bang Zaitun memutar lagu Berputar putar seperti perjalanan ke kampung Gantong Atau prosesi operasi gigi Ikal, yang sampai dilaporkan secara langsung oleh stasiun radio.Keempat, editing Kirain penerbit sudah kenyang masukan atas lolosnya berbagai kesalahan penyuntingan isi dalam Edensor, ternyata belum Bahasa Latin ilmiah masih ada walau sudah tak melimpah ruah Tapi banyak farewel masih lolos dengan manisnya, juga salah sebut di sana sini.Kalau banyak yang mempersoalkan akhir cerita, buat saya tak masalah Cerita ini milik Andrea, terserah dong cara dia mengakhirinya Tidak mungkin semua cerita berakhir and they live happily ever after Inilah hidup, inilah dunia, inilah drama, inilah khayalan Sekiranya ada salah satu tokoh penting yang is dead pun saya tak akan protes, karena sudah lama juga jargon memoar buat tetralogi LP ini nggak mempan buat saya Empat buku ini hanya sebuah cerita yang memukau, dari seorang pencerita yang inspiratif, kreatif dan terus saja sudi berbagi pada makhluk tukang cela seperti saya Karena cerita buku ini bagi saya sangat imajinatif, maka pada review saya di multiply, saya golongkan buku ini dalam genre Science Fiction Fantasy Fantasi yang keren, tiga bintang I like it.Proses saya membaca buku ini 30 11Belum akan saya baca sampai bulan depan yang akan dimulai besok , tapi sudah banyak cerita tentang buku ini Dan terutama mengenai perjuangan.Satu, perjuangan Roos, Lita, Dian dkk yang hadir saat launching buku ini plus konferensi pers infotainment Jumat 28 11 di Cilandak dan menyisihkan satu buruan mereka buat saya Ada tandatangan Andrea di dalamnya, walau kali ini tanpa embel2 Dear Vera lagi, hehe Dua, perjuangan Roos dan Dahlia mengantarkan buku ini pada saya sore ini di Blok M Plaza Tiga, perjuangan Nanto pulang dari Bandung yang mampir ke Blok M untuk segera mengejar bis pulang ke Tangerang ada hubungannya ga Empat, perjuangan saya menanti metromini mikrolet taksi di Kampung Melayu sampai basah kuyup lebih setengah jam di bawah hujan untuk mendapati genangan air nan parah di sekitar daerah penyangga komplek perumahan saya.Semua perjuangan ini terasa manis manakala buku ini saya serahkan untuk dibaca pertama kali oleh Ibunda tersayang yang setahun lebih memendam rindu pada Arai dan mengharap doktor mikrobiologi lulusan Essex University itu untuk jadi mantunya, hehehe.Ibu, selamat membaca Nanti saya tuliskan review nya deh di sini.4 12Tambahan setelah membaca hingga 211 halaman Mozaik 33 Semalam saya pulang ke Jakarta, disambut Ibu yang sudah mengkhatamkan 504 halaman buku ini, yang tidak membiarkan saya membaca Kak Maryamah ini dengan tenang karena sedikit2 cerita tentang Arai dan Nurmala, tentang Laskar Pelangi belasan tahun kemudian, tentang Pulau Batuan, tentang A Ling, dan tentang ending yang nyebelin.Dengan teror dari Ibu yang sudah pasrah tak bisa bermantukan Muhammad Arai, Ph.D itu, jangan heran kalau saya jadi sudah tahu apa yang termaktub pada halaman 504.6 12Akhirnya selesai juga dibaca setelah saya didera berbagai ngilu sendi akibat seharian kemarin mundar mandir di area outbond D Jungle di Ciburial kemarin.Bintangnya sementara tiga Sebenarnya 3,5 Tapi tunggu sehat dulu deh, biar bisa berpikir jernih dan sempat kembali lihat catatan. Maryamah Karpov Memoar Yang SurealisSaat membaca lembar demi lembar Maryamah Karpov, sulit bagi saya untuk percaya bahwa buku itu adalah memoar Pun saat tamat membacanya, saya sangsi.Maryamah Karpov mengajak pembaca bertualang dalam dunia khayalan yang hiperbolis Dahsyat nan menggugah imaji Begitu imajinatif hingga condong kepada surealis, meskipun menurut dugaan saya Andrea mati matian membuatnya realis Karena itu, pada titik ini Andrea Hirata telah gagal.Apakah ini lantaran persepsi yang telah tertanam pada pembaca bahwa tetralogi Laskar Pelangi adalah memoar Maka setiap kisah yang tidak masuk akal dalam Maryamah Karpov membuat pembaca skeptis, sehingga menilainya condong kepada surealis alih alih mengada ada.Saya sendiri sangsi tentang waktu pembuatan novel keempat tetralogi Laskar Pelangi ini apakah sebelum Andrea tenar atau sesudah novel pertamanya booming Apakah ketika shooting film Laskar Pelangi sedang berlangsung atau jauh hari sebelum itu Sebab saya merasakan kenarsisan Ikal yang cukup akut dalam buku ini Jauh berbeda dari tiga buku sebelumnya yang relative rendah hati.Yang menjadi tanda tanya berikutnya adalah jika novel ini ditulis setelah Andrea tenar, ia sangat tidak antisipatif, karena berkali kali ia gagal mengejutkan pembaca Dengan gaya bertuturnya yang khas pada tiga novel sebelumnya, pembaca sudah sangat mahfum dengan jalinan kata kata Andrea, sehingga kejutan yang telah disiapkannya tidak lagi mengejutkan Sebagai contoh lika liku kata kata Andrea tentang mimik ayahnya yang hendak mengungkapkan sesuatu saat pertama kali melihatnya pulang dari Eropa, sangat dapat ditebak arahnya Sehingga klimaks di akhir bab tidak lagi mengejutkan Sangat berbeda ketika membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor Saya bisa tertawa terbahak bahak atau terisak isak mendapati klimaks di akhir bab Bisa jadi, karena pada era tiga novel sebelumnya, pembaca masih awam dengan gaya bertutur Andrea.RoxanaKehadiran Roxana di infotainment sedikit banyak mengganggu persepsi pembaca saat membaca novel ini Apalagi Roxana amat jauh dari deskripsi tentang A Ling Sehingga sekali lagi membuat pembaca sangsi bahwa Ikal benar benar bertemu A Ling Apalagi di akhir cerita, Andrea menggantung kisah antara Ikal dan A Ling Entahlah, apakah ini strategi bisnis agar mungkin dibuat sekuelnya Namun demikian, eksistensi Roxana menjadi misteri baru dalam wacana riwayat hidup Pendekar Ikal , karena kehadirannya seolah menjadi bayang bayang A Ling Tapi jangan khawatir, bagi yang tidak mengikuti infotainment, tidak akan terpengaruh pada sosok Roxana berikut pernyataannya yang cukup membuat penggemar Andrea kecewa atau malah tidak percaya.Pernyataan itu adalah tentang bualan Andrea dalam memoar tetralogi Laskar Pelangi Roxana menyebut Andrea Hirata berani berbohong di muka publik lewat keempat novelnya ini Entahlah hanya saja, setelah membaca Maryamah Karpov, pernyataan Roxana tersebut menjadi cukup dipertimbangkan Apalagi saya mencium aroma kisah mengada ada dalam buku ini Hal ini terbaca lewat inkonsistensi Andrea pada beberapa fakta Salah satu contohnya adalah tokoh Mahar Pada novel pertama, Mahar dikisahkan telah insaf dari fanatisme dunia gaib dan akhirnya menjadi guru seni di sebuah sekolah Namun aneh, tokoh Mahar dalam Maryamah Karpov dikisahkan justru makin menjadi jadi ilmu perdukunannya Pun Societeit de Limpai yang telah bubar di akhir buku Laskar Pelangi, di novel keempat ini mereka hidup lagi.Pesan MoralMembaca Maryamah Karpov jauh berbeda dengan membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, atau Edensor Meskipun gayanya masih mirip atau tidak terlalu sama , satir dan hiperbolis, namun kesan yang ditimbulkannya sangat berbeda Pesan moral yang inspiratif hampir tidak ditemukan di sini.Saya menganggap pada titik ini Andrea pun gagal, sebab kesan yang tertangkap tak lebih dari sekedar petualangan khayali melintasi samudara nan garang demi cinta pada seorang gadis Tionghoa Selebihnya, tidak ada pesan moral yang menggugah pembaca seperti tiga novel sebelumnya.Saya mendapati banyak orang terinspirasi untuk belajar lebih giat gara gara membaca Laskar Pelangi Menekuri kisah Lintang dalam novel pertama ini membuat semua yang membaca menjadi lebih mensyukuri hidup Mirip dengan novel pertama, banyak orang terinspirasi untuk melanjutkan sekolah tinggi dan mencari beasiswa ke luar negeri lantaran membaca Sang Pemimpi dan Edensor Sayangnya, tidak demikian halnya dengan Maryamah Karpov Entah karena saya overestimate ketika hendak membaca, atau memang karena karya ini kurang membumi Siapanya Bang Anatoli Saya menamatkan bacaan ini dalam keadaan terkapar di tengah kompresan, jadi entahlah apakah kesimpulan ini memang asli dari bukunya atau jangan jangan bercampur aduk dengan igauan Bintang 1 Setia berakar pada budaya Belitong Intinya adalah mengenai semacam gegar budaya balik yang dialami sang tokoh, Ikal, sekembali dari melanglang buana bersekolah tinggi Ternyata, ilmu dan pengalaman yang telah dia peroleh dari petualangan hebatnya itu pun tidak serta merta menjamin dia bisa mengatasi segenap kesulitan yang dihadapi di daerah asalnya sendiri, bahkan tidak untuk sekadar mengatasi gigi bungsu Sepak terjangnya yang canggung itu menjadi pusat perhatian masyarakat sekeliling, sebagai hiburan sekaligus ajang taruhan mereka di warung kopi Walaupun tidak lagi banyak menyorot masalah pendidikan formal, kali ini lebih mengamati hubungan antarmasyarakat dalam sistem pemerintahan desa, lumayanlah untuk dijadikan bahan pembahasan reformasi birokrasi dan otonomi daerahBintang 2 Penuturan yang lucu, berani malu dan bela belain membumbui dengan misteri, horor, twist rada maksa tapi meriah lahBab bab awal cukup menggugah penasaran, walaupun menurut hemat saya cerita kelulusan di luar negeri seharusnya ditamatkan saja ke dalam buku sebelumnya, agar masing masing fase kehidupan menjadi utuh mandiri di tiap buku sebagaimana bab bab buku kedua, SP yang terkait alur Edensor, buk ketiga, juga mendingan disatukan sekalian Banyak hal baru yang belum digali dalam ketiga buku sebelumnya mengenai keadaan masyarakat Belitong, antara lain melalui stereotip masing masing kelompok suku dan ras, diiringi julukan julukan sesuai sifat masing masing tokoh Melayu yang berperan di sini Ternyata dari situlah, sepintas lalu, judul buku ini terumuskan Jadi sesungguhnya Mak Cik Maryamah itu bukan siapa siapanya Bang Anatoli, cuma penggemar berat, kali ya Lagipula selain itu tak ada cerita lebih lanjut tentangnya Memang antara judul, subjudul, gambar sampul dan isinya saling menipu Mungkin sengaja supaya jalan cerita sulit ditebak ya Bintang 3 Biasa, bonuslah karena diundang dan dapat tanda tangan Entah sebagai balasan undangan acara acara saya selama ini atau hanya terimbas viral marketing Walaupun sebelumnya tak ada sebersit pun niat mengejar ngejar buku ini, karena kebetulan letak Mizan Point sangat dekat dengan tempat nongkrong saya, maka tanpa pikir panjang, hadirlah saya menyambut undangan itu mengajak teman teman Lumayan ada sandiwara, pentas musik, artis artis yang beredar dan dapat tanda tangan langsung walaupun ternyata harus beli sendiri, gak dapat gratisan, huh Bintang 4 Ini subjektif memang POKOKNYA ADA LANUN Alur cerita yang melibatkan pembuatan perahu dan pelayaran menyeberangi laut, mungkin bagi beberapa pembaca membosankan, atau terkesan mengawang, atau menyimpang dari harapan, tapi justru inilah yang sedikit memenuhi tuntutan saya akan pengimbang dominasi asing dalam kisah terfavorit seperti One Piece dan Pirates of the Caribbean Horeee Betul banget, betul banget Lanun Melayu kan sejak zaman Borobudur jelas paling unggulan Ngapain pula anak pulau dari negara maritim terbesar di dunia, jauh jauh berlagak menantang Eropa Afrika, sementara menaklukkan Selat Malaka yang ada di pelupuk mata malah belum sempat Hanya saja fenomena ini masih dalam tahap pengamatan Coba tokoh utamanya terlibat langsung jadi perompak sekalian, itu baru seruuu Sayangnya banyak yang janggal dan rancu Penampilan kembali tokoh tokoh Laskar Pelangi dengan sensasional terkesan mengada ada Penggambaran keadaan masing masing juga kok agak bertentangan dengan epilog dalam buku LP Mahar yang katanya tobat, masih terlibat perdukunan A Kiong yang dibilang punya toko kelontong, di sini buka warung kopi Lintang kalau sampai sebegitu pintarnya, ya memang gak perlu sekolah, ikut ujian persamaan kek, lalu cari karier yang lebih bermasa depan Eh tapi mungkin bekerja serabutan begitu justru lebih nikmat daripada jadi pejabat Yang aneh, tak satu pun dari mereka terlibat sebagai anggota masyarakat sekitar, baik ikut bertaruh maupun mendapat julukan Apakah sudah beda pergaulan Bayangan sosok sang cinta pertama yang di LP ditekankan tak terlacak lagi dan hanya akan disimpan sebagai kenangan indah walaupun diam diam masih didambakan di dua buku selanjutnya sampai di MK semakin memancing Ikal menempuh hal hal yang paling tak masuk akal dan tidak konsisten Penokohan A Ling sendiri, tetap mengambang di permukaan Informasi yang bertambah hanyalah, segurat rajah, dan sepintas kisah kisah perjumpaan masa kecil yang belum dibeberkan di LP lho ternyata sering juga ya ketemuannya Rentang waktu yang berlalu tidak memperdalam pemahaman mengenai sifat sifatnya Jangan jangan dia muncul lagi hanya demi memenuhi khayalan pembaca Penyuntingnya ke mana aja sih Mengapa penyunting tega lepas tangan meloloskan kerancuan dan kejanggalan seperti itu Di buku pertama bolehlah, sebagai terobosan baru oleh penulis pemula Di buku kedua dan ketiga saja sudah aneh masa sih kelompok sebesar Mizan kekurangan proofreader yang cukup intelek untuk lebih kritis meninjau pernyataan pernyataan sok ilmiah agar tidak menyesatkan pembaca yang tidak tahu dan malas mengulik Haree genee, kroscek info lewat wiki google kan bisa Perlukah sedemikian terburu buru menerbitkan serangkai tetralogi Sementara yang ini kan adalah buku keempat, yang sudah dirancang sejak sekian lama untuk mengikat ketiga buku sebelumnya sehingga menjadi satu kesatuan utuh Ini kok malah membuyarkan Saalh keitk juga masih ada di sana sini Seharusnya baik penulis, penyunting maupun penerbit sudah lebih piawai mengerjakan tugas masing masing, apalagi toh pangsa pasarnya cukup aman karena para penggemar berat sudah menanti nanti setengah gila Apa sih susahnya meningkatkan mutu Katanya berevolusi, mana Jangan jangan penerbit dan penyunting sengaja membiarkan itu apa adanya penulis Supaya, katakanlah, manusiawi Tapi jangan jangan kerancuan memang menjadi senjata utama dan gongnya buku ini Antara halaman pertama dengan lembaran paaaaaling akhir, adalah kerancuan paling parah dalam buku ini strategi yang sangat menarik, tak terduga, patut direnungkan serius, namun sama sekali tidak lucu Hmmm Apakah ini termasuk pelajaran moral Apakah ini islami Yang menjengkelkan adalah sistem promosi yang menunggangi gunjingan Kalau mau membantah secara gak penting begitu jangan disambi di hari peluncuranlah Pintar pintarlah meredam lewat jalur belakang Seakan akan bukunya saja tidak cukup kuat mengundang wartawan yang agak lebih bermartabat daripada infotainment Tapi mungkin perlu maklum, seniman dan pujangga rata rata memang orang aneh, apa boleh buat Kesimpulannya, mau lahir dan besar di manapun, Orang Melayu Tetap Pembual huh. okey, setelah menenangkan diri selama semalam suntuk rasanya saya sudah siap untuk menulis review ttg buku yang entah kenapa berjudul maryamah karpov ini.dahulu kala sekali, saya pernah secara tak sengaja membaca sebuah interview andrea hirata Dimana dalam wawancara tersebut dia bercerita sepintas ttg buku ini, yang kala itu masih jauh dari waktu diterbitkan andrea bercerita, bahwa dalam sebuah book discussion dia bertemu dengan seorang pembaca wanita, middle age woman, yang sosoknya sangat pas untuk menjadi inspirasinya untuk buku keempat ini karena dalam maryamah karpov, si ikal ini ingin menulis ttg perempuan menarik bukan dan salahkan rasanya kalau lantas saya berpikir bahwa buku ini adalah fiksi dan karangan layaknya sebuah novel biasanya tapi,, saat saya akhirnya membaca buku ini , cerita nya sangat berbeda dengan dugaan saya sebelumnya.berbeda, tapi tidak lantas lebih buruk.banyak orang meributkan apakah kisah dibuku ini nyata adanya atau tidak ah, saya tidak peduli kawanselama dia bisa menulis dan membuat saya tergugah, terserah sajalah isi cerita itu benar atau tidak karena toh buku ini adalah novel, bukan buku panduan atau apapun yang keasliannya menjadi point penting so, what s the fuss just enjoy it lahbuku ini banyak terfokus pada kehidupan sehari hari orang orang melayu, hokkian, ho pho,suku sawang, dan orang orang bersarung.mungkin cerita ttg mereka tidaklah penting, tapi hei, tingkah polah mereka menghibur nian.ada pula kisah ttg para lanun alias bajak laut, dari yang asli yang kelakuannya bak robin hood, sampai lanun masa kini yang pure criminal.kalau tak membaca buku ini, manalah saya akan tau ttg keberadaan mereka.menambah wawasan bukan ada satu bab dalam buku ini yang merupakan bab favorit saya, yaitu bab berjudul cara pandang Menurut saya bab ini cukup inspiratif, sangat sesuai dengan tetralogi laskar pelangi yang katanya memang banyak memberi inspirasi di sana sini.intinya, saya lagi2 mengacungkan semua jempol saya untuk andrea, terlepas dari apakan cerita ini benar atau tidak, toh tulisannya memang membuktikan bahwa dia adalah seorang penulis yang sangat piawai mengolah kata dan itu, sudalah cukup untuk ku , Boichokengtitiktitikchokengwell, tapi ttp aja ending nya bikin bete.saranku kawan, cukuplah kau membaca sampai halaman 495 saja percayalah, percayalah Rasanya ada yang mengganjal seselesainya baca ini buku Mana Maryamah Karpov yang saya tunggu tunggu itu Maryamah yang katanya contoh perempuan Melayu yang teguh melawan budaya patriarki Dari awal sampe akhir, cuma ketemu selintas Makcik Maryamah, yang pandai bermain catur Saya curiga berat, Andrea gak cuma bermaksud nulis Tetralogi Pentalogi mungkin atau malah Heptalogi, menyaingi Harry Potter hehehe Supaya ada tempat menyelesaikan cerita Cik Maryamah ini, juga ada tempat mengelaborasi kisah Dokter Diaz yang menggantung Dokter yang mendapat porsi terlalu banyak di buku ini, dan rasanya sayang jika tidak dilanjutkan Saya sempat berprasangka buruk Apa Andrea mengubah strategi penceritaannya demi permintaan pasar Lebih A Ling ketimbang Makcik Maryamah.Menurut hemat saya sih, elok sekali kalo cerita ini berhenti di Edensor Semua mimpi masa kecil telah tercapai Pencarian A Ling, hingga ke tengah benua Afrika, berhenti dengan kesadaran Yang dicari ternyata ada dalam dirinya Apalagi penggambaran Deja Vu, ketika secara tak sengaja menemukan Edensor Indah sekali Seperti kisah Simurgh dalam Mantiq Ath Thoyr nya Fariduddin Attar Teman dan kerabat Ikal, sudah sangat hebat di tiga buku pertama Gak perlu buku tambahan untuk menggambarkan kehebatan mereka Kecewa Yaa engga juga Masih banyak sisi positif dari Andrea di buku ini Penggambarannya tentang budaya orang Melayu dalam memberikan gelaran gelaran buruk, orisinil sekali hehehe Buku ini masih berupaya menanamkan nilai nilai kebaikan dan tekad kuat Walaupun ada pula beberapa kesalahan redaksional kecil Misalnya Eksyen yang selalu mempertimbangkan angel bukan angle Atau pepatah sekali rakyat terkembang, pantang surut ke belakang Atau emang sengaja yaa hehehe.Untuk bintang, gimana kalo untuk sementara 3 dulu boi hehehe 2 3 1 4Ah, Kawan Andrea Hirata mode on , jangan mengira angka angka di atas adalah formasi tim sepakbola Real Madrid, walaupun akan sangat seru menempatkan 4 striker sekaligus untuk membobol gawang lawan Formasi angka tersebut adalah urutan pembacaan buku tetralogi Laskar Pelangi Saya sudah lama mendengar nama Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi nya Namun saat itu, saya belum tertarik untuk membaca satu pun dari buku buku tersebut Sampai akhirnya, ketika buku Sang Pemimpi dipilih menjadi materi siaran radio Buku Kita di VHRmedia.com, barulah saya mulai membaca buku itu, dan tentu saja diawali dengan Sang Pemimpi.Membaca Sang Pemimpi , mengingatkan saya dengan masa masa remaja di sekolah dulu Kemungkinan besar, kalau kamu dulu menghabiskan masa remaja dan sekolah di desa atau kampung atau setidaknya kota kecil, kamu pun akan merasakan apa yang saya rasakan saat membaca buku ini D j vuKira kira begitulah saya mengibaratkannya Kemudian, Edensor pun tidak ketinggalan Buku ini juga penuh dengan inspirasi, setidaknya buat saya Bagaimana usaha dua orang kampung mengejar mimpi mimpi mereka Menarik Berikutnya, Laskar Pelangi menyusul telat Buku ini pun tidak kalah inspiratif Semua orang berhak mendapatkan pendidikan Dan, kemiskinan tidaklah seharusnya menjadi penghalang bagi anak anak untuk mengenyam pendidikan Tidak perlu gedung, meja, kursi, dan buku buku mahal Laskar Pelangi membuktikan bahwa di tanah lapang sekalipun orang bisa belajar Di sekolah reot sekalipun, bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar Semua tergantung dari kemauan Kawan lagi Andrea Hirata mode on Setidaknya, itulah beberapa pesan yang bisa saya tangkap Well, tiga buku pertama yang menarik dari sebuah tetralogi, membawa angan TERBANG dalam tanya Akan seperti apakah akhir dari kisah ini Bagaimana dengan A Ling, Lintang, Arai, dan siapa pula Maryamah Karpov ini Tak sabar ingin segera mendapatkan buku terakhirnya yang dari awal sudah di dengung dengungkan akan berudul Maryamah Karpov.Dan dengan gendang bertalu talu, gosip yang bermunculan sejalan dengan penulis yang sudah dianggap sebagai selebritis akhirnya buku terakhir ini diluncurkan juga Cukup mungkin sangat tebal, 504 halaman Beberapa hari kemudian selesai dibaca.Saya hanya bisa menikmati sebagian dari sejumlah mozaik yang ada dalam buku ini, yaitu ketika Ikal berlayar ke Batuan untuk mencari A Ling Cukup seru, walau berakhir tidak seru Selebihnya, buku ini lebih banyak kalau bisa dibilang berlebihan menceritakan kebiasaan kebiasaan orang Melayu di Belitong sana Ketika membaca Laskar Pelangi , Sang Pemimpi , dan Edensor , kisah dalam tiga buku itu diceritakan dengan cara yang bisa membuat saya tersenyum dan kadang tertawa Dan, Maryamah Karpov pun dikisahkan dengan gaya yang sama, tapi kok rasanya jadi garing ya Tak ada lagi senyum, apalagi tawa Mungkin aku sudah terlanjur kenyang dengan tiga buku yang pertama Entahlah Pesan moral yang ke 212 Kapak Sakti Jangan menyajikan makanan dengan cara yang sama, bisa membosankan.Kenapa berjudul Maryamah Karpov Di tambah anak judul Mimpi Mimpi Lintang Dari buku setebal 504 halaman ini, saya cuma membaca beberapa baris kalimat yang menjelaskan siapa tokoh Maryamah Karpov ini Penjelasan yang hanya secuil untuk sebuah judul Malahan Nurmi, anaknya Mak Cik Maryamah Karpov ini, yang lebih banyak dapat porsi Pada saat membaca tulisan Mimpi Mimpi Lintang dibagian sampul, saya berharap akan membaca kisah tentang Lintang serta mimpi mimpinya, karena Lintang ini menjadi tokoh yang mengangumkan buat saya Ternyata oh ternyata, Mimpi Mimpi Lintang hanyalah sebuah nama kapal buatan Ikal yang didesain oleh Lintang.Saya jadi teringat ketika membaca sebuah novel berjudul Levina Judul ini tentu mengingatkan saya dengan kapal Levina yang terbakar, karam, serta merenggut puluhan jiwa Namun, novel itu hanya berkisah tentang cinta ala sinetron yang berakhir di sebuah kapal Levina yang terbakar Judul, ya betul Saya tidak tahu ini akan menjadi penyakit gila nomor berapa Buatlah judul seheboh mungkin, soal hubungannya dengan isi cerita, itu urusan belakang kawan Angan yang sempat terbang dalam tanya, kini mendarat darurat, tersungkur dan GUBRAK udah tahu harganya kemaren, pas cari tempat aman buat nelpon penting DUdah punya bukunya sampulnya kok bikin pengen denger the Corss.Baca berapa bab Sampai Ikal lulus thesis Ngakak abis waktu LaPlagia meletup, Woodward, pernahkah kau bayangkan bidang kita ini akan dimasuki mahluk keriting model beginiTernyata hanya orang ketus dan angkuh saja yang tidak bisa membedakan keriting dan ikal update 06 12 08 Ikal tetap lucu Suka bagian humor yang dikaitkan dengan etnisitas Karena nama nama di situ, nyokap nyamperin gue, ngapain sih ketawa sendiri Wee orang baca buku juga Bagaimana gak ketawa denger cerita dibalik nama nama ini Jumiadi Setengah Tiang karena sifatnya yang super duper mellow, Sema un Barbara karena kambingnya bernama Barbara, San Thong Pompa karena ngejailin si Barbara dengan pompa anginnya sampai kembung, Nur Gundala Putra Petir yang pernah tersambar petir namun selamat, Muharam Buku Gambar yang berevolusi Menjadi Muharam Ini Budi setelah tidak lagi buta huruf, Berahim Harap Tenang si operator proyektor film, Munawir Berita Buruk karena dia yang menyuarakan pengumuman berita duka dari toa mesjid Bahkan nama itu bisa diwariskan kepada anaknya hingga ada Marhaban Hormat Grak dan anaknya Marhaban Hormat Grak II, dan Berahim Harap Tenang dan Berahim Harap Tenang Yunior Untuk nama A Liong Koteka d h A Liong Sunat dengan cerita soal khitanannya, Ikal memberikan catatan pelajaran moral nomer delapan belas jangan sekali kali memperlihatkan benda apapun di dalam celanamu, di depan orang Melayu D sekaligus deh gue.Masuk ke bagian Ikal mencari A Ling Jadi rada lambatabis rada kurang lucunya update Di cerita pencarian A Ling pada tahap pembuatan perahu yang dilanjut dari kisah humor dan etnisitas, saya mencoba membuat catatan Catatan tentang keteguhan akn mimpi dan negativisme di sekeliling kita Ikal yang ditertawakan karena keinginannya membuat perahu sedang dia hanya orang awam di bidang itu merupakan bagian dari gejolak tarik ulur mimpi versus cercaan orang sekeliling Meski datang bantuan dari kawan kawannya di Lasykar Pelangi, kuncinya tetap di Ikal yakinkah ia mampu meraih mimpinya Abis bacain review orang Godaan melemahkan untuk menamatkan buku ini makin menjadi Endingnya Beberapa review kuciwa, bahkan mempertanyakan judulnya seperti review ini Kemaren seorang teman saya mendadak menelpon saya soal buku ini Dia menelopon untuk bilang, sudah tamat Padahal saya gak tau dia baca apa enggak, lalu misuh misuh soal ending buku ini Jika tidak karena HP saya bermasalah p, perbincangan itu bisa juga mempengaruhi semangat saya untuk menamatkan buku ini.Untungnya yang saya cari bukan endingnya Yang saya cari gaya khas Andrea dalam bertutur Mengingatkan seorang kawan melayu saya Yang kosa katanya khas, dan juga bisa bikin senyum, ngakak bahkan D Masih terpukau dengan observasi sederhana Andrea tentang humor dan etnisitas Paparannya menunjukan ia tipe pengamat yang baik Hayo berapa banyak orang memperhatikan hubungan teknik melawak dengan kepribadian dan nilai..Mending tamatin segera, sebelum terdesak dengan banyak pendapat Baca pake kacamata kuda Ngebut.menyalip di sela sela bacaan pening Seandainya Andrea berhenti di Edensor (Read Pdf) ⚣ Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang Ó Keberanian Dan Keteguhan Hati Telah Membawa Ikal Pada Banyak Tempat Dan Peristiwa Sudut Sudut Dunia Telah Dia Kunjungi Demi Menemukan A Ling Apa Pun Ikal Lakukan Demi Perempuan Itu Keberaniannya Ditantang Ketika Tanda Tanda Keberadaan A Ling Tampak Dia Tetap Mencari, Meski Tanda Tanda Itu Masih SamarDapatkah Keduanya Bertemu Kembali This is the last episode of Andrea Hirata The rule to enjoy this book 1 Stop make personification between Ikal and Andrea They might be came from the same mind but the character and the flow of story could be different I successfully avoided publisher s jargon before read it 2 Being a dreamer doesn t mean a fiction nor an illusion 3 For you who expect too much from this book, I think you should let the book tell itself Just enjoy it, no matter what people say.4 If you just want the story literally, forget it You will disappointed Try to read beyond the story Such as local wisdom and conservative values or the loves of history and nation s pride You will findthan in the book if you can read it in different view.Overall I love it