Read Book ⚔ Rara Mendut: Sebuah Trilogi ⚕ Tyrakel.de

Masih adakah kini ksatria ningrat bertutur kata laksana syair nan indah bermakna dalam Dimana kata adalah realisasi diri , pancaran murni dari kesucian hati , kebesaran jiwa dan kepedulian sosial yang teramat tinggi Dan apabila keindahan selalu bersinar dalam matahari dan bulan, pantulan kecantikan gadis kan selalu diwartakan oleh angin dan awan Sementara ia si jejaka kan terus resah bermimpi dalam ayunan angan berfantasi soal kepemilikan gadis sekedar untuk melipur hati sembari menunggu geliat kuat keteguhan motivasi Bilamana guratan nasib telah berkehendak , garis kehidupan tak ayal bermain kuat mendikte arah perjalanan Tak peduli ia sosok yang lama besar tumbuh dibangun dalam terpaan keras dan dinginnya sepoi angin pantai pun lelautan Seumpama gelegar halilintar memamerkan daya dan kekuatan alam dengan sedahsyatnya , betapa kecil dan rapuhnya manusia menyadari kelemahannya dalam fitrah yang penuh keterbatasan.Berupaya menikmati , mencerap lagi memahami serta menggerayangi lakon cerita dan karakter Mendut dalam bingkai sapuan sastra karya Mangunwijaya mengkhususkanku untuk memberikan curahan rasa ekstra yang jauh lebih peka Disatu sisi terkesan gaya susun rangkai kata yang berusia cukup tua sehingga dibutuhkan penjajakan awal yang taklah kurasa cukup mudah manakala menjajaki citra level tulis yang kerap menyisipkan lagi menghidupkan kandungan nuansa bernafaskan serat begawan dan kidung ciamik ala pujangga bijak Mendut , sosok wanita bebas berkeras hati yang tak mudah takluk oleh keinginan luar Dibesarkan oleh gemuruh ombak pantai dan cakrawala kebebasan Dari bukan sesiapa hingga menjadi buah bibir dan pikir para petinggi mataram Tangan kekuasaan memilihnya sebagai perlambang kecantikan dalam ketundukan Menjerat kehidupan muda bebasnya dalam kungkung penjara raksasa berlapis angkuh jejaring kemewahan 4 pria menarik ulur nasib kewanitaannya Namun segala amarah , cinta , serta perjuangan konflik getir kekuatan jiwa yang tengah bertumbuh sebagai proses pematangan dan pendewasaan dalam dirinya hanya memberi akhir cerita kehidupan asmara rapuh dalam tikam kematian keris Tumenggung Wiraguna saat memuaskan puncak egoisme pribadi ataupun kerumitan kedaulatan ningrat ala Mataram jawani dalam peluk maut bersama kecup setia lelaki pilihannya , Pranacitra Rengkuh hangat nan liar riuh jerit ombak laut mengawali kemunculan ceritanya , dan melalui dingin serta ganasnya terkaman ombak laut yang getir pula yang mengakhiri tragis kisah cintanya. gimana mindahin Mendut saya ke sini secara saya salah naro review dari awal He he he ra popo wis kadung.Sampul edisi trilogi ini keren Gambar wanita duduk mengulum rokok lintingan dilatari dengan prajurit berkuda Ilustrasi pasukan berkuda itu merupakan gambaran prajurit berkuda Mataram yang dikagumi oleh Kapiten Jambi ketika mengunjungi istana Amangkurat I. Read Book ⚇ Rara Mendut: Sebuah Trilogi ⚆ Rara Mendut, Budak Rampasan Yang Menolak Diperistri Oleh Tumenggung Wiraguna Demi Cintanya Kepada Pranacitra Dibesarkan Di Kampung Nelayan Pantai Utara Jawa, Ia Tumbuh Menjadi Gadis Yang Trengginas Dan Tak Pernah Ragu Menyuarakan Isi Pikirannya Sosoknya Dianggap Nyebal Tatanan Di Lingkungan Istana Di Mana Perempuan Diharuskan Bersikap Serba Halus Dan Serba Patuh Tetapi Ia Tak Gentar Baginya, Lebih Baik Menyambut Ajal Di Ujung Keris Sang Tumenggung Daripada Dipaksa Melayani Nafsu Panglima Tua Itu Genduk Duku, Sahabat Rara Mendut Yang Membantunya Menerobos Benteng Keraton Mataram Dan Melarikan Diri Dari Kejaran Tumenggung Wiraguna Setelah Kematian Rara Mendut Dan Pranacitra, Genduk Duku Menjadi Saksi Perseteruan Diam Diam Antara Wiraguna Dan Pangeran Aria Mataram, Putra Mahkota Yang Kelak Bergelar Sunan Amangkurat I Dan Sesungguhnya Juga Jatuh Hati Kepada Rara Mendut Perempuan Rampasan Yang Oleh Ayahnya Dihadiahkan Kepada Panglimanya Yang Berjasa Lusi Lindri, Anak Genduk Duku Dipilih Menjadi Anggota Pasukan Pengawal Sunan Amangkurat I Oleh Ibu Suri Lusi Lindri Menjalani Kehidupan Penuh Warna Di Balik Dinding Dinding Istana Yang Menyimpan Ribuan Rahasia Dan Intrik Intrik Jahat Sebagai Istri Perwira Mata Mata Mataram, Ia Tahu Banyak Bahkan Terlalu Banyak Semakin Lama Nuraninya Semakin Terusik Melihat Kezaliman Junjungannya Tiada Pilihan Lain Bulat Sudah Tekadnya, Baginya Lebih Baik Mati Sebagai Pemberontak Penentang Kezaliman Daripada Hidup Nyaman Bergelimang Kemewahan Sebenarnya saya membaca buku karangan Romo Mangun ini sudah beberapa tahun yang lalu Namun sayang, pada saat itu, saya masih belum terlalu akrab dengan Goodreads Oleh karenanya, saya putuskan untuk membaca ulang buku ini sekedar me refresh memori saya Buku ini sebenarnya terbagi dalam tiga bagian Bagian pertama menceritakan tentang Rara Mendut Bagian kedua menceritakan tentang Genduk Duku, dan yang terakhir menceritakan tentang Lusi Lindri Ketiganya bagi saya merupakan gambaran perempuan super yang nyleneh Saya ingat dulu, kakung saya selalu berkata bahwa jika pria memiliki 5 hal untuk membuat dia sempurna wisma, wanita, cukila, turangga, curiga Maka wanita harus mampu melakukan 5 M untuk membuatnya sempurna Macak, masak, mlumah, manak dan mbasuh Kasarannya, seorang wanita Jawa harusnya nurut dan nunut Namun hal tersebut tidak terlihat dalam diri ketiga perempuan super ini Mereka memperjuangkan apa yang mereka ingini Hal menarik lainnya dari buku ini adalah bahasa Romo Mangun yang selalu lugas dan juga familiar Ah, buku ini memang pantas menjadi buku koleksian di rumah karena kebagusannya. ANJRIT, kesel gak sih lo, lagi asyik asyik nulis review hape pakai mati segala padahal udah masuk paragraf keempat Padahal buat nyelesain buku ini butuh perjuangan karena tebelnya 806 halaman dengan tema cerita klasik abad 17 yang harus dihayati kalimat perkalimat sementara besok buku udah harus saya balikin supaya bisa minjem yang lain, padahal kesempatan baca buku saya makin dikit karena kesibukan, kebetulan aja ini lagi sakit, diare, karena makan pedes gak teratur, jadilah gak bisa kemana mana cuma kasur wc baca buku, lemes Semua jadwal rencana yang saya susun berantakan Hh Tapi besok kudu sembuh Harus Padahal perut masih krucuk krucuk.Yah, baca buku ini saya merasa bersyukur lahir di jaman sekarang Bukan di Jawa masa raja raja Hii Kata siapa dipimpin raja itu enak Monarki Noes Bahkan Raja Jawa sekalipun.Again, saya pernah nulis, war have no mercy.Dari dulu saya kepo siapa sih Mendut Rara Mendut Kenapa sampai detik ini dia masih terkenal padahal dia perempuan tahun 1600an, sekarang 2015 dan namanya masih melekat.Alasannya sederhana, dia simbol perlawanan, jiwa jiwa yang gak mau diikat pakem yang gak sesuai hati nurani hanya karena dipraktekan umum dan dipatuhi umum, mayoritas belum tentu benar.Saya gak tahu sih, seberapa banyak kisah ini difiksikan sama Romo Mangun Tapi karakter Mendut emang sesuatu Saya suka cewek cewek tangguh kayak gini yang menolak dirinya dijadikan budak kaum laki laki.Seorang gadis pantai yang merdeka, ayu, kerjaannya nguntit Siwa ke laut di Teluk Cikal, sementara perempuan perempuan lain di dapur, dia berlayar, yang kecantikannya akhirnya didengar pembesar Pati, Adipati Pragola, dan dia bukan atas kemauannya diboyong Di sana lah Mendut ketemu Ni Semangka anak dalang yang jadi Mbok Embannya Genduk Duku, pelayan juga tapi lincah naik kuda karena ayahnya orang Bima, yatim piatu Belum sempet diangkat jadi selir resmi istana, Adipati Pragola kalah perang melawan Mataram, Pati akhirnya dihancurkan, dijarah, perempuan perempuannya diambil Pas Pati lagi chaos chaosnya rupanya Mendut tetep berusaha kabur, melawan, gak mau tunduk sama sekali, prajurit gak bisa ngapain ngapain karena perempuan rampasan gak boleh dilukain, mereka main kucing kucingan dan gak sengajalah Mendut ketemu Wiraguna, si Pemimpin Bala Tentara yang langsung jatuh hati seketika karena lihat keliarannya Mendut Di Mataram sebagai hadiah dia minta Mendut ke Raja sebagai hadiah karena rampasan termasuk wanita dibagi bagi Wiraguna cuma minta Mendut yang akhirnya bikin iri permaisuri selir selir raja yang lain Dia jadi bahan gunjingan karena sikapnya yang gak sehalus puteri puteri keraton, termasuk melawan gak mau sama Wiraguna sampai akhirnya harus bayar pajak dari 5 ringgit, ke 10, ke 20 Akhirnya dia boleh jualan rokok dengan syarat pembeli penjual dibatasi kerai Dibalik kelir itulah Roro Mendut jualan lintingan rokok yang basah air ludahnya, dan banyak yang beli karena disuguhi tari tarian yang menggoda sekaligus jenaka Hari pertama, kedua, ketiga, dari rakyat jelata sampai pembesar antri, terus terjadi keributan, di tengah keributan itu dia diculik Pranacitra, anak Nyai Singabarong, pelaut perempuan di pantai utara, saudagar kaya, yang tertarik ke Rara Mendut dan diam diam bisa masuk bilik tokonya karena dia dan abdi abdinya cerdik Tapi di tengah jalan Mendut yang juga gandrung ke Pranacitra karena doi mirip cem cemannya pas di Teluk Cikal dulu dia minta balik karena inget ke shabatnya di Puri Wiraguna Arumdadi yang merasa terharu karena Mendut gak egois nyari enaknya sendiri Akhirnya pelarian babak dua Pranacitra pura pura jadi pengurus kuda, ngelamar kerja di Puri dan suatu malam akhirnya bawa kabur Mendut dibantu Putri Arumdadi dan diem diem Raden Ajeng bikin skenario niatnya ngebantu musuhnya karena sebagai perempuan dia salut ke Mendut dia pengen bikin mata suaminya terbuka supaya relain aja Mendut, Wiraguna udah tua, kudunya sadar diri gak dikekang ego lagi buat nakhlukin perempuan, tapi ternyata Wiraguna egonya tinggi dan dikirimlah pasukan buat ngeburu Pranacitra Mendut sampai akhirnya mereka gelut Rara Mendut Pranacitra terbunuh dikeris Wiraguna di tepi pantai Genduk Duku 2 abdinya Pranacitra kabur ke Pekalongan.Setelah itu buku 2 berkisah soal Genduk Duku ketemu Slamet, pemuda Teluk Cikal yang berguru ke Siwa nya Rara Mendut, sayang Siwanya meninggal karena sedih ditinggal Mendut yang gak ada kabarnya pasca Pati luluh lantah Akhirnya mereka menikah terus dimulailah petualangan mereka sampai anak mereka lahir, Lusi Lusi Lindri yang akhirnya jadi abdi dalem keraton pas dia udah gede tapi setelah dititipin ibunya di Puri Jagakarsa, dibawah perlindungan Adipati Singaranu yang bijaksana Slamet terbunuh karena ngelindungin Putri Arumdadi pas Wiraguna ngamuk mau ngebunuh Tejarukmi selirnya yang ayu yang diculik Putera Mahkota Lika liku mereka panjang Dari berlayar kemana malah kemana dan ketangkep suruh bawa perbekalan ke Mataram karena tawanan VOC yang diperbudak masih kurang, sampai akhirnya mereka ditinggal dan ditolong tawanan belanda anaknya, pelaut Pas mereka ketemu lagi bertahun kemudian pas Lusi udah lahir, dan ayah anak ini merencanakan melarikan diri yang ditolong Slamet tapi kabarnya Karel si anak ditemuin tewas, sayang Genduk Duku gak lihat lagi mayatnya.Buku ketiga bercerita soal Lusi Lindri sampai kematian Genduk Duku pasca hancurnya Mataram di bawah pemerintahan Amangkurat yang dulu terkenal sebagai Pangeran Jibus, Rangkah, dll karena dari muda seneng main perempuan dan sewenang wenang termasuk ngincer Genduk Duku yang dia temuin dijalan tapi berkat Pahitmadu kakaknya Wiraguna yang sayang banget ke Genduk Duku respek ke Rara Mendut meskipun belum pernah ketemu mereka cerdik akhirnya Jibus kalah tapi tetep aja ngejar ngejar perempuan lain lagi termasuk Tejarukmi yang entah dia cinta sampai mati, sampai setelah Tejarukmi mati dia gak selera sama perempuan lagi sampai ketemu janda Dalang dalangnya mereka bunuh dan jandanya dia ambil Iya, kesultanan emang bobrok banget Banyak kejadian model red wedding di sini, satu keluarga digorok karena kesalahan sepele, si raja seneng musuhin rakyatnya sendiri, pengikutnya, sampai jadi parno dll.Buku ini ironi parah sih Mau itu di Betawi sana atau di tanah Mataram Untung masih ada orang orang oke model Ni Semangka, Putri Arumdadi, Genduk Duku, Pahitmadu, Lusi Lindri, Mendut, Pranacitra, Slamet, Singaranu, Pangeran Selarong, Peparing yang akhirnya dibunuh di jalan pas mau ngelamar Genduk Duku, termasuk anaknya Lusi Lindri Peparing si Wibisana jadi korban Endingnya semua anaknya Lusi Lindri Peparing ada 5 mati semua, anak sulungnya, perempuan, yang janda setelah perceraian diambil buat pendamping raja tapi malah diperkosa lalu dibunuh di jalan Yang anak tirinya karena Peparing duda anak satu pas nikahin Lusi Lindri anaknya mati pas cari sarang burung walet di gua, yang 2 mati karena sakit, yang terakhir tinggal Wibisana yang juga mati.Banyak yang dirampas dijadiin budak, entah VOC yang ketangkep di Mataram atau pribumi di perbatasan Kerawang sana yang dirantai di Batavia suruh bersihin saluran air Yah, pribumi di negeri sendiri juga diperas, pajak tinggi, disuruh kerja bakti bikin waduk supaya raja senang, dll, dll.Bahkan pemberontak pemberontaknya pun haus kuasa semua, mereka punya kepentingan sampai tahap santri santri yang pernah dibantai digorok sama Amangkurat karena dendam disindir mulu mereka juga punya kepentingan berkuasa Disini cuma kaum Gunung Kidul yang akhirnya gak mau ikut pihak manapun yang kelihatan berdaulat dan pro rakyat kecil karena mereka sendiri kalangan bawah, mereka pemberontak sekaligus pengamat Tepat keputusan mereka buat berdiri dilingkaran luar meskipun 3x dapet kesempatan buat menggorok leher raja merampas harta kerajaan, pas semuanya sibuk perang, mereka tinggal menjarah puri, tapi akhirnya mereka putuskan itu gak bijaksana karena harta bakalan megubah naluri mereka Pokoknya kehidupan Jawa dari rakyat sampai pengede pengedenya dikupas di sini, dan kita bisa berkaca.Rasanya di Jawa, Zaman makin enak, dan saya bersyukur, nggak hidup di zaman serba tunduk macem itu. Sudah baca Rara Mendut nya bintang 4,5 Tapi udah kehilangan semangat pas baca Genduk Duku, apalagi Lusi Lindri. aku ingin membuat tugas tentang ini biarkan aku membacanya Seandainya oh seandainya saya punya edisi hardcover nya, itu akan sangat menyenangkan Tapi sudah dicari ke mana mana, tetap tidak ketemu, jadi ya sudahlah Karena buku ini pantas dikoleksi. Akhirnya selesai juga baca buku ini Gara gara ketebelan dan males dibawa2, akhirnya susah nyari waktu buat bacanya Ini buku keren banget Kalau aja gue udah baca buku ini waktu sekolah dulu, mungkin gue bakal lebih semangat belajar sejarah atau antropologi Ga ada yang gue ga suka dari buku ini, menurut gue 1 cara nulisnya unik, jawa banget untung ada translation nya 2 Semua karakter punya pribadi kuat bukan cuma peran utamanya misalnya si peparing, slamet, wiraguna, putri arumardi, mangkurat, etc 3 Isi cerita yang ga umum ada necrophilia segala lagi 4 Unsur budaya yang jelas banget jadi background cerita ini bikin gue terpesona sama keindahan budaya jawa nya, adat istiadat, sudut pandang, andaikan budaya Indonesia dibikin jadi sesuatu yang dibanggakan kayak di cina 5 Semua bagian cerita melengkapi satu sama lain menjadi satu kesatuan, ga ada satupun bagian yang percuma atau sengaja ditambah2in biar nebel nebelin buku ga kayak sinetron indonesia yang sengaja ditambah2in ceritanya biar panjang.Salut banget sama Romo Mangun, ga ada unsur katolik sedikitpun di bukunya, bisa banget cerita tentang kebudayaan yang mayoritas mulai memeluk agama islam tanpa tergoda untuk memasukan pendapat pribadi Salah satu buku favorit gue Recommended banget Ini adalah buku pertama dari Y.B Mangunwijaya yang kubaca Buku sastra bukan genre utamaku, jadi di sini aku tidak akan mengulas dari sisi sastranya tapi dari mata seorang pembaca awam yang menyukai genre historical fiction terutama yang asli Indonesia Buku tebal epic ini adalah sebuah trilogi dan review terpisah dari masing masing buku kulampirkan di bawah ini ya..Buku 1 Rara Menduthttps www.goodreads.com review showBuku 2 Genduk Dukuhhttps www.goodreads.com review showBuku 3 Lusi Lindrihttps www.goodreads.com review showAkhirnya selesai sudah perjalanan panjangku membaca buku yang puitis dan penuh perlambang ini Aku pribadi membutuhkan kisah HF yang punya alur lebih sistematis, storyline lebih fokus, gaya bahasa yang lebih mudah di pahami dan karakter yang lebih konsisten dan di galo mendalam Walau belum berhasil menyetrum hatiku, tapi buku ini memberikan sedikit gambaran tentang kekayaan sejarah Indonesia yang bisa diangkat sebagai literatur Buku ini akan lebih mudah dipahami oleh teman teman pembaca yang memahami sedikit bahasa Jawa dan menyukai genre sastra sejarah.