#READ EPUB ì Jejak Langkah ⚢ eBook or E-pub free

Selamat tinggal kekasihku, rengguk hidup ini sampai ke dasar cawan Capai cita cita mudamu sampai setinggi langit biru, rampas segala yang menjadi hakmu.Deg Selalu sedih dengan kata perpisahan Ending yang begini buat makin penasaran sama buku ke empatnya.Overall cerita dibuku ini selalu menginspirasi untuk memikirkan hak hak orang kecil, persatuan bangsa, perubahan, pemberontakan kearah yang lebih baik, Dan review tentang pelajaran sejarah di masa berdirinya organisasi organisasi indonesia pra kemerdekaan Coba aku baca novel ini dari dulu dulu, pasti pelajaran sejarah nilainya bagus Ini cara mempelajari sejarah indonesia dengan penyampaian yang mudah dimengerti Dibalut cerita roman minke Saya yang masih baru baca buku sastra macam ini, masih sering pusing sama bahasa indonesia lama yang sering dipakai di novelini, jadi perlu baca sampai dua kali intuk kalimat2 susah Dan percakapan percakapannya yang kadang pakai bahasa melayu lama Tapi alur yang nggak ketebak, cerita yang nggak biasa, jadi pengalaman tersendiri dan menambah sudut pandang lain ttg indonesia. Dari dua buku sebelumnya, mungkin jejak langkah dinilai agak membosankan untuk sebagian besar pembacanya Dialog dialog panjang Minke dengan dirinya sendiri dan berbagai tokoh pergerakan yang mulai dikenalkan Pramudya memakan hampir 60 persen dari isi buku.Apabila buku pertama membahas tentang pribadi Minke dan perkenalannya dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh dan terlihat sifat pergerakan belum mencapai pikiran Minke dan buku kedua berkutat dengan Konflik Minke dan beberapa pribumi dengan kekuasaan kolonial, maka jejak langkah adalah klimaks dari persetereun atau benturan antara pribumi yang diwakili Minke beserta koran medan priyayinya dan gubermen Hindia Belanda yang diwakili van Heutsz Sedikitnya konflik pribadi yang dihadirkan di buku ini sesuai dengan arah buku ini secara umum Pramudya membagi sususan keseluruhan cerita menjadi awal pergerakan secara pribadi dan bagaimana seorang pribadi Pribumi terusik dengan keadaan pribumi di buku Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa Pergerakan secara organisasi dan perlawanan lantang di tunjukan pada buku Jejak Langkah ini Maka dari itu Jejak langkah memuat sedikit banyak interaksi Minke dengan tokoh tokoh pergerakan seperti tergambar dalam adegan2 di buku Terdapat adegan Minke mengikuti kuliah Dr Wahidin yang mengobarkan semangat pergerakan pada siswa2 kedokteran STOVIA, serta dialog segitiga antara Mei tokoh pergerakan Tiong hoa di Hindia dan R.A Kartini dan Minke sebagai penerjemahnya Dialog yang dirasa tertalu panjang mungkin dikarenakan banyak pembaca menduga buku ini akan sama dengan dua buku sebelumnya, yaitu tentang konflik pribadi minke Tapi dengan saratnya muatan tentang fakta sejarah dan dialog dialog tentang organisasi pergerakan, Pramudya tidak lupa menambahkan cerita pribadi Minke dengan Mei, tokoh baru di Betawi yang merupakan tunangan kawan lamanya Sinkeh yang meninggal di Surabaya, diceritakan di buku sebelumnya Dari pembacaan saya atas bagian dari Tetralogi Buru ini, saya berpendapat mungkin Pramudya dapat lebih menambahkan detil pada fakta2 sejarah dalam buku ini Karena dalam buku ini, ia berniat mengupas habis cerita cerita, fakta dan memberi gambaran senyata nyatanya pada pembaca mengenai situasi pada jaman pergerakan sebelum dan sekitar berdirinya Boedi Oetomo Tidak terlalu banyak karya tulis atau sastra yang menggambarkan era era kebangkitan bangsa ini, kita hanya tahu fakta fakta sejarah kering yang kita baca di pelajaran sejarah sekolah Tapi mengingat kondisi Pramudya yang merupakan tahanan politik sewaktu ia membuat karya ini, kekurangan detil pada buku ini bisa menjadi pemakluman Biarpun begitu, detil pada buku ini tidaklah mengecewakan dan bisa menambah perbendaharaan pengetahuan kita tentang sejarah bangsa indonesia di era awal awal dan perintis kemerdekaan Yang menakjubkan lagi adalah kemampuan Pramudya meramu fakta sejarah dan mencampurnya dengan roman sejarah hanya dengan bantuan ingatan dan memorinya semata Ya semua literatur yang dikumpulkanya hanya diingatnya karena semuanya ditinggal di Jakarta sewaktu ia menjalani peran sebagai tahanan politik di Pulau Buru.Saya rasa buku ini perlu menjadi bacaan sastra wajib bagi siswa sekolah menengah di seluruh negeri ini Bukan saja ceritanya yang menarik tapi juga muatan nasionalisme yang seakan membakar hati saya sepanjang membaca seri tetralogi Buru Jarang ada buku yang bisa membuat saya membaca seperti kesetanan lupa waktu, lupa makan, lupa turun dari bus dan lupa bayar ongkos bus pula..seperti kata alm Soe Hok Gie Nasionalisme tidak didapat dari doktrin doktrin yang dijejalkan di kepala kita, tapi dengan melihat langsung tanah air dan dengan membaca buku ini paling tidak kita bisa melihat tanah air di awal kebangkitannya #READ EPUB ⚝ Jejak Langkah à Kehadiran Roman Sejarah Ini, Bukan Saja Dimaksudkan Untuk Mengisi Sebuah Episode Berbangsa Yang Berada Di Titik Persalinan Yang Pelik Dan Menentukan, Namun Juga Mengisi Isu Kesusastraan Yang Sangat Minim Menggarap Periode Pelik Ini Karena Itu Hadirnya Roman Ini Memberi Bacaan Alternatif Kepada Kita Untuk Melihat Jalan Dan Gelombang Sejarah Secara Lain Dan Dari Sisinya Yang BerbedaTetralogi Ini Dibagi Dalam Format Empat Buku Pembagian Ini Bisa Juga Kita Artikan Sebagai Pembelahan Pergerakan Yang Hadir Dalam Beberapa Periode Dan Roman Ketiga Ini, Jejak Langkah, Adalah Fase Pengorganisasian PerlawananMinke Memobilisasi Segala Daya Untuk Melawan Bercokolnya Kekuasaan Hindia Yang Sudah Berabad Abad Umurnya Namun Minke Tak Pilih Perlawanan Bersenjata Ia Memilih Jalan Jurnalistik Dengan Membuat Sebanyak Banyaknya Bacaan Pribumi Yang Paling Terkenal Tentu Saja Medan PrijajiDengan Koran Ini, Minke Berseru Seru Kepada Rakyat Pribumi Tiga Hal Meningkatkan Boikot, Berorganisasi, Dan Menghapuskan Kebudayaan Feodalistik Sekaligus Lewat Langkah Jurnalistik, Minke Berseru Seru Didiklah Rakyat Dengan Organisasi Dan Didiklah Penguasa Dengan Perlawanan Judul Jejak LangkahPenulis Pramoedya Ananta ToerPenerbit Lentera DipanteraHalaman 724 halamanTerbitan 2007 pertama terbit 1985 Jejak Langkah adalah buku ketiga dari kuartet Buru yang Pramoedya ciptakan selama pengasingannya di Pulau Buru.Novel ketiga ini menceritakan bagaimana Minke yang telah melakukan observasi dan yang telah tumbuh perasaan nasionalismenya di buku 1 dan 2 , perlahan mulai mengatur perlawanan terhadap cengkraman Belanda.Pernah dengar pepatah di belakang pria yang hebat terdapat seorang wanita yang hebat Dalam kasus Minke, ada banyak wanita hebat Salah satu hal yang paling menonjol dari kuartet Buru adalah peranan wanita pada kesadaran Minke akan nasionalisme Ada 5 wanita yang memicu kesadaran Minke dalam membentuk organisasi yang memulai kebangkitan penduduk pribumi.Yang pertama adalah Nyai Ontosoroh yang mulai menyadarkan Minke bahwa penduduk pribumi pun sebenarnya memiliki kemampuan yang sama dengan pihak Belanda Hal ini terbukti dari kemampuan Nyai mengurus perusahaan suaminya, seorang pengusaha Belanda yang kurang mampu mengurus perusahaannya, sehingga berkembang dengan baik Nyai Ontosoroh jugalah yang pertama membangkitkan semangat Minke untuk terus menulis.Yang kedua adalah Annelies, istri pertama Minke, anak dari Nyai Ontosoroh Perceraian paksanya yang berakhir dengan kematian Annelies membuka mata Minke akan ketidakadilan yang dialami penduduk pribumi Minke yang meruapakan anak bupati yang selalu merasakan fasilitas yang baik, akhirnya mulai sadar akan kondisi Hindia Belanda yang sebenarnya.Yang ketiga adalah Ang San Mei Ang San Mei adalah tunangan dari sahabat Minke, Khouw Ah Soe Khouw Ah Soe yang telah meninggal menitipkan surat pada Minke untuk disampaikan pada gadis itu Sejak pertemuan pertamanya dengan Ang, Minke sudah jatuh hati padanya Bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena kecerdasan gadis itu.Lewat Ang inilah untuk pertama kalinya Minke mulai awas tentang organisasi Ang yang tergabung dalam sebuah organisasi pemuda Tionghoa memberi Minke sebuah titik awal untuk memulai organisasi pribumi Hal ini tumbuh semakin kuat setelah dia menghadiri kuliah umum seorang dokter Jawa yang menyadarkan Minke betapa tertinggalnya penduduk pribumi dari penduduk Tionghoa dan Arab di Hindia Kedua bangsa itu telah memulai organisasinya sendiri untuk meningkatkan kualitas hidup golongannya, sementara penduduk pribumi belum ada yang berani untuk mencetuskannya.Yang keempat adalah ibu Minke sendiri Seorang wanita Jawa tulen yang bahkan berani melawan suaminya, yang merupakan hal yang sangat berani mengingat kondisi patriarkal pada zaman itu, untuk bertemu dengan anaknya Rasa cintanya pada sang anak membuatnya mampu memberi restu pada Minke untuk mempersunting Ang San Mei, sekaligus menguatkan hati Minke untuk menjadi dalang yang benar Tapi ada kekuatan besar penelan kebajikan tapi enggan terbagi Minke Guru guru nenek moyangmu juga sudah tahu itu, Nak Mereka menamainya buto Dan mereka tidak pernah menang melawan para satria nenek moyangmu Sekarang ini mereka terus menerus menang Itu di tangan yang salah Bunda, sahaya akan jadi dalang yang tidak salah itu hal 85 Yang kelima adalah Prinses van Kasiruta, istri ketiga Minke Prinses membantu Minke menjalankan Medan , koran pribumi pertama yang Minke dirikan Berbeda dengan kedua istri pertamanya, Prinses adalah sosok wanita yang lebih keras secara fisik Dia bahkan berani membalas dendam pada orang orang yang telah mengeroyok Minke, karena tidak suka pada pemberitaan di Medan , dengan cara menembak orang tersebut.Usaha pertama Minke dalam mendirikan organisasi tidak berjalan mulus Organisasi perdananya, Syarikat Priyayi , terpaksa mati suri karena kasus penyalahgunaan uang oleh pengurusnya.Minke tidak berlama lama dalam kekecewaannya Dia segera bangkit lagi dan mendirikan koran Medan Priyayi yang menjadi koran pribumi pertama Dengan bantuan Nyai Ontosoroh, yang kini telah menikah dengan Marais dan pindah ke Perancis, Minke memperoleh bantuan tenaga hukum untuk korannya.Kedatangan Hendrik Frischboten, tenaga hukum yang dikirimkan oleh Nyai Ontosoroh, dan istrinya Mir, yang merupakan sahabat lama Minke, memulai babak baru dalam hidup Minke.Dengan bantuan Hendrik, Medan menjadi tempat penyuluhan masalah hukum oleh penduduk pribumi dan berhasil menjadi salah satu koran dengan oplah terbesar Selain mengurus Medan , Minke juga mengurus berdirinya suatu organisasi baru yang menggantikan Syarikat Priyayi Kali ini Minke mendirikan Syarikat Dagang Islamiah Belajar dari kesalahannya dulu, Minke tidak mau organisasinya terdiri hanya dari para priyayi yang bersikap pasif Selain itu Minke yang sadar akan pentingnya perdagangan bagi ekonomi suatu bangsa, memutuskan untuk membentuk sebuah syarikat dagang.Idenya ini sendiri sebenarnya ditentang oleh Douwager, seorang jurnalis Belanda yang menggiatkan kesadaran akan arti nasionalisme Douwager mengkritik penggunaan kata Islamiah karena menurutnya hal itu merujuk pada eksklusivitas agama tertentu Walau begitu, Minke tetap pada pendiriannya karena dia punya pertimbangan lain Tapi nasionalisme tak bisa berlandaskan agama Agama itu universal, buat setiap orang Nasionalisme untuk bangsa sendiri, garis terhadap bangsa bangsa lain Douwager Landasan itu tidak bisa jadi dengan sendirinya Semua yang serbacita digalangkan landasannya dulu Apa salahnya jika begitu banyak orang yang setuju Kan itu juga pendidikan ke arah demokrasi Minke Tetapi bukankah Tuan masih tetap sependapat denganku, bahwa pikiranku tidak keliru Tetap, Tuan, hanya waktunya belum tepat hal 539 540 Dalam perjalanannya Minke mengalami banyak tantangan Oplah Medan yang mulai turun karena kemunculan koran Sin Po , kehadiran orang orang yang membenci dan bahkan melukainya, perpecahan dalam tubuh SDI, bahkan hingga rasa ragunya karena dia tidak kunjung punya anak.Satu hal yang menarik di buku ini adalah pergulatan Minke di luar koran dan organisasinya Pergulatannya akan hubungan gelapnya, kalau tidak mau dibilang perzinahannya, dengan Mir Frischboten.Mir yang juga merupakan sahabat lama Minke ternyata tidak bahagia dengan pernikahannya Suaminya, Hendrik, memiliki masalah seksual yang membuat mereka tidak bisa dikaruniai anak Hal ini membuat Mir memaksa Minke untuk menjalin hubungan dengannya Hal ini menarik, karena menunjukkan suatu kelemahan Minke yang membuatnya tampak manusiawi Tentunya Minke salah dalam hal ini, apalagi mengingat dia sudah menikah dengan Prinses saat itu, tapi tetap memberikan sentuhan tersendiri pada cerita.Lalu bagimana Minke akan mengatasi semua tantangan yang dia hadapi Bagaimana dengan hubungan gelapnya bersama Mir Semua jawabannya bisa diperoleh dalam novel Jejak Langkah ini.Jadi, secara keseluruhanSaya benar benar suka novel ini Jumlah halamannya memang jauh lebih tebal daripada Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, tapi saya sangat menikmatinya Membaca buku setebal ini sama sekali tidak membuat saya capek Justru saya ingin terus membacanya dan ketika harus berhenti untuk istirahat atau kegiatan lain, saya merasa harus berpisah dengan seorang kerabat yang begitu dekat dan tidak sabar menantikan perjumpaan berikutnya Terdengar lebay Percayalah, memang tepat seperti itulah yang saya rasakan.Sayangnya masih ada typo bersebaran di buku ini Semisal kata tuna tuan di hal 39, typo perkawa di hal 374, dan typo kelom pok di hal 395 Masih ada beberapa lagi sih, hanya saja tidak saya catat.Siapa sebenarnya Minke Minke adalah tokoh yang berdasarkan seseorang pada dunia nyata Minke yang dalam tulisannya dikenal dengan inisial TAS merujuk pada Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional dikukuhkan oleh pemerintah pada 1973 dan seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres RI no 85 TK 2006.Kesamaan antara tokoh Minke dan Tirto Adhi Soerjo bisa dilihat dari koran dan organisasi yang mereka dirikan Sama seperti Minke, TAS juga mendirikan koran bernama Medan Prijaji pada 1907 dan organisasi Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia pada tahun 1909 Halaman depan Medan Prijaji, 2 April 1910Buku ini untuk tantangan baca 2013 Membaca Sastra Indonesia 2013 Read Big Reading Challenge 2013 Serapium Reading Challenge 2013 Indonesian Romance Reading Challenge 2013 Finishing the Series Reading Challenge Buku ketiga tetralogi buru ini begitu tebal Kisahnya panjang dan berliku Elemen kesejarahan kadang mendominasi elemen mikro kehidupan Minke Terasa sedikit menunggangi Tapi aku rasa begitulah hidup dalam masa pergolakan Hampir saja elemen kesejarahan itu membuatku memberi bintang tiga untuk buku ini Sampai ketika Prinses van Kasiruta, istri Minke yang bangsawan Maluku itu, menembak gerombolan Robert Suurhof Yes Rasain hehehe Plot cerita lantas makin deras dan berliku Seru Di sela sela kejadian kejadian besar, Pram tetap tidak lupa menorehkan hal hal keseharian dan remeh yang membuat novel ini tetap novel, bukan uraian sejarah Dan aku terkesan dengan kalimat penutup buku ini Tak aku sadari kakiku tak berselop. The first book in this quartet This Earth of Mankind made me cry The second book Child of All Nations made me cry This third installment of the Buru Quartet made me angry Colonization just sucks And when a nation of mixed cultures fight each other while working towards independence, freedom if achieved is tainted Footsteps is the biggest of the quartet and the most political From what I understand it is also the last of the first person narrative from Minke s point of view Oneto go and I really hope that Indonesia gets it together but now in 2009 I know how this earth of mankind stands both politically and culturally and I don t know if Minke would be proudSo what is the use of the French Revolution then and her voice was so gentle, as it had always been ever since the first time I heard it You said it was to free men from the burdens made by other men Wasn t that it That is not Javanese A Javanese does something with no other motive than to do it Orders come from Allah, from the gods, from the Raja After a Javanese has carried out the order, he will feel satisfied because he has become himself And then he waits for the next order So the Javanese are grateful, they give thanks They are not preyed upon by monsters within themselves Although nominated for the Nobel Prize in Literature, Pramoedya Ananta Toer gave up his chance of ever winning when he died Damn it, why didn t he wait a little longer before dying Ulasan Jejak LangkahBuku Jejak Langkah merupakan buku ketiga dari tetralogi Pulau Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer Tiga buku pertama pada dasarnya membahas tentang perjalanan hidup seorang Minke Pada buku keempat, tokoh Minke menjadi Tirto Minke dan Tirto merupakan orang yang sama tetapi Tirto adalah sosok Minke dalam kehidupan asli Jejak Langkah melanjutkan perjalanan hidup Minke yang sudah diceritakan pada buku buku sebelumnya, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa Pada bagian awal buku, Minke berada di dalam sebuah trem yang sedang menuju ke Betawi, disebutkan juga bahwa tujuan ia datang ke Betawi adalah untuk menuntut ilmu kedokteran di STOVIA Sesampainya Minke di STOVIA, Minke dikucilkan dan direndahkan oleh pelajar lainnya Kopor dan lukisan yang ia bawa ditendang dan diolok olok Lihat ini Hanya anak dusun busuk berkopor lebih busuk semacam ini Halaman 15 Hal yang sama juga terjadi saat ia berada di asrama STOVIA, ia direndahkan karena ia adalah seorang pribumi Minke tidak diam saja, ia membalas olokan mereka dengan melayangkan tendangannya ke salah satu dari mereka dan mematahkan dua gigi dari orang tersebut Kejadian ini menemukan Minke dengan Partotenojo Partotenojo atau yang biasa dikenal dengan Partokleoooo juga seroang pribumi yang sedang menuntut ilmu kedokteran di STOVIA Mereka berteman sejak saat itu.Keesokan harinya, Ter Haar datang menemui Minke di asramanya dan meminta Minke untuk mengikuti sebuah konferensi di De Harmonie Minke menyetujui dan mereka datang ke konferensi tersebut bersama sama Konferensi tersebut dihadiri oleh para petinggi, termasuk Gubernur Jenderal yang pernah berperang di Perang Aceh Minke tidak banyak bicara saat konferensi tersebut berlangsung, ia hanya memperhatikan apa yang dibahas oleh para petinggi dan berkomentar dalam hatinya Ia menyimpulkan bahwa Van Heutsz adalah seorang pembunuh dan memiliki niat jahat Saat konferensi hendak berakhir, ia diminta untuk angkat bicara dan ia mengajukan sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan pabrik gula Masalah tersebut juga pernah dibahas dalam dua seri tetralogi Pulau Buru sebelum Jejak Langkah Pertanyaan yang diajukan oleh Minke diremehkan dan dianggap tidak berbobot, ia merasa hal ini terjadi hanya karena ia seorang pribumi Setelah konferensi tersebut berakhir, Ter Haar mengantar Minke kembali ke asramanya dan Minke diberi peringatan bahwa banyak orang yang memiliki niat jahat meskipun dari depan ia terlihat seperti orang baik Beberapa hari telah berlalu, Minke pergi mengunjungi sebuah daerah yang berisi orang orang Tionghoa untuk mengantarkan surat kepada seseorang Surat tersebut berasal dari sahabat Minke yang sudah meninggal dan ditujukan untuk tunangannya, Ang San Mei Pertama kali Minke melihat Ang San Mei, diceritakan bahwa ia jatuh hati Minke pulang ke asramanya dan ia merencanakan untuk pindah ke rumah Ibu Badrun setiap akhir pekan Ibu Badrun adalah sosok yang sangat baik hati dan selalu membantu Minke Minke mulai sering mengunjungi Mei dan setelah mengenal Mei lebih baik, Ibu Badrun meminta mereka untuk menikah agar orang orang tidak punya anggapan buruk terhadap hubungan mereka Minke dan Mei menikah di kampung dimana Minke dulu dibesarkan Setelah mereka kembali ke Betawi, Minke kembali tinggal di asrama dan Mei tinggal di rumah Ibu Badrun Suatu hari, ada sebuah konferensi yang sedang berlangsung dan Minke mengikuti konferensi tersebut, ia juga mengajak Mei bersamanya Dalam konferensi tersebut, seorang dokter memberikan sebuah pidato dimana ia menyarankan para pribumi yang bersekolah kedokteran untuk membuat sebuah organisasi, ia berseru agar dimulai mendirikan organisasi sosial, memajukan anak anak bangsa, mempersiapkan mereka memasuki jaman modern, jaman kemajuan, jamannya sendiri Halaman 186 Ide yang dikemukakan oleh dokter tersebut memiliki niat yang baik Jika dihubungkan dengan era globalisasi saat ini, pribumi memang harus berusaha untuk memajukan kebudayaan Indonesia karena persaingan yang semakin tinggi Dalam dunia pekerjaan, banyak pribumi yang kurang unggul dan kalah dalam persaingan karena tingkat pendidikan mereka yang lebih rendah dari pesaing lainnya.Dukungan yang diberikan dari Mei membuat Minke bersemangat untuk membentuk sebuah organisasi yang berisikan orang orang pribumi Dukungan yang diberikan dari Mei tidak berlangsung lama Silang dua tahun pernikahan mereka, Mei tidak pernah berada di rumah lagi, ia selalu pergi bekerja untuk membela bangsa dan negaranya Dulu dia memang baik, penurut, selalu tinggal di rumah pada waktunya Sekarang jarang kelihatan dan nampaknya lebih suka di jalanan Halaman 218 Kesibukan Mei menyebabkan kondisi tubuhnya lemah dan rentan terhadap penyakit, ia mulai menunjukkan gejala gejala hepatitis dan matanya mulai menguning Parahnya penyakit Mei mengharuskan ia untuk dirawat di rumah sakit dan Minke selalu menemaninya semasa itu Dua bulan ia dirawat, tubuh Mei sudah terlalu lemah dan akhirnya ia meninggal Minke dikeluarkan dari STOVIA dan dipecat dari pekerjaannya karena kelalaiannya Meskipun tawaran pekerjaan pekerjaan baru selalu datang, ia menolak setiap tawaran tersebut sampai suatu hari ada seseorang yang datang menawarkan Minke untuk menjadi pemegang kekuasaan kedua dari sebuah perusahaan Ia menerima tawaran tersebut Setelahnya, ia berusaha untuk membentuk sebuah organisasi Organisasi tersebut diminati oleh banyak pribumi, tetapi mereka semua memiliki pendidikan rendah Oleh karena itu, konflik sering terjadi diantara mereka, tetapi Minke selalu berhasil menyelesaikan masalah tersebut dengan bermusyawarah Sampai akhirnya, masalah yang terjadi sudah terlalu banyak dan tidak dapat diselesaikan lagi, Minke mengakhiri organisasi tersebut Dengan berakhirnya organisasi tersebut, Minke pergi ke Yogyakarta untuk mengikuti sebuah konferensi yang diadakan oleh Boedi Oetomo Dalam perjalanannya ke Yogyakarta, ia bertemu dengan teman lamanya, Mas Sadikoen Mereka membicarakan tentang artikel boikot yang pernah Minke tulis Dalam konferensi itu, Minke tidak menikmati waktunya, ia memiliki pendapat negatif terhadap Boedi Oetomo karena organisasi tersebut berisi para petinggi yang tidak ia sukai Selama ia berada di Yogyakarta, ia dikenalkan kepada Hans, salah satu teman Sadikoen Hans biasa dikenal dengan panggilan Haji Moeloek Awalnya Hans ingin meminta bantuan kepada Minke tetapi ia memulainya dengan menyarankan Minke untuk menulis surat kabar menggunakan bahasa Jawa, dan akhirnya ia meminta Minke untuk menerbitkan tulisan Hans Minke berkata bahwa ia akan mempertimbangkan hal tersebut Minke kembali ke kampung dimana ia dibesarkan Disana, ia bertemu dengan Ayah dan Bundanya Ia bercerita bahwa ia ingin membentuk sebuah organisasi Di kampungnya, ia juga bertemu dengan Prinses yang berasal dari Kasiruta Minke meminta bantuan Prinses untuk membuat sebuah majalah wanita dan Prinses juga tertarik dengan ide yang diajukan oleh Minke Di rumah Minke yang terletak di Bogor, ia bertemu dengan temannya yang berasal dari Eropa, Mir Frischboten Mir bercerita bahwa suaminya sedang sakit dan tidak bisa disembuhkan Mir berusaha merayu Minke untuk memiliki anak bersama dengannya, karena Mir tidak kunjung dianugerahi seorang anak Pertemuan Minke dengan Pengki menjadi solusi dari sakit yang dialami oleh Hans, ia dibawa ke sinse dan didiagnosa bahwa ia bisa disembuhkan dalam waktu satu bulan Setelah Hendrik sembuh, Tuan Raja, Ayah dari Prinses, meminta Minke dan Prinses untuk menikah dan mereka menyutujui ide tersebut Minke melihat perdagangan yang dilakukan oleh para pribumi dan ia tertarik dengan hal tersebut Ia pun memiliki sebuah ide untuk membentuk sebuah organisasi yang memiliki persyaratan sebagai berikut Jadi Tuan setuju kalau organisasi itu didirikan, berawatak bangsa ganda, bahasa Melayu, bukan prijaji, golongan dagang, golongan bebas, dan beragama Islam Halaman 522 Berdasarkan persyaratan tersebut, Syarikat Dagang Islam SDI pun terbentuk Bagian keuangan dari organisasi tersebut dipegang sendiri oleh Minke karena ia merasa divisi tersebut adalah unsur terpenting dari sebuah organisasi Besarnya nama SDI menyebabkan SDI mengalami banyak konflik dan permasalahan Salah satu konflik yang dialami adalah penolakan kaum Arab terhadap pedagang kulit di Jawa Barat Minke beranggapan SDI bermaksud untuk mengembangkan perdagangan Yang datang justru sebaliknya Halaman 545 Anggapan tersebut memiliki arti, tujuan utama dari SDI sendiri adalah untuk membantu orang orang agar mereka bisa berdagang, tetapi banyak konflik yang datang justru menentang ide tersebut Akhirnya Minke berhasil menerbitkan majalah wanita yang dibentuk bersama sama dengan Prinses Setelahnya, ia mendapat surat yang berisi sebuah teror, tetapi ia menghiraukan hal tersebut dan merayu Prinses untuk memiliki seorang anak bersamanya, peduli apa dengan De Knijpers Halaman 564 Surat teror tersebut berasal dari musuh lamanya, Robert Suurhof, yang pernah berusaha untuk membunuh Minke di buku kedua Diketahui bahwa Minke ternyata memiliki sebuah masalah, ia mandul, dan masalah ini tidak bisa disembuhkan meskipun ia telah mendatangi sinse Banyaknya konflik yang dialami oleh SDI menyebabkan SDI terpecah menjadi dua bagian Sjarikat Dagang Islmijah dan Sjarikat Dagang Islam yang dipimpin oleh Minke Robert Suurhof mengganti nama organisasinya dengan De Zweep dan ia menyerang Minke Minke didatangi oleh Teukoe Djamiloen, seorang polisi yang menyamar sebagai seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan Minke ditangkap oleh Teukoe Djamiloen atas tuduhan tidak pernah melunaskan hutang Penangkapan Minke menyebabkan ia harus bercerai dengan Prinses Dikatakan bahwa Minke akan ditangkap dan kemungkinan akan diasingkan dari pulau Jawa Buku ini berakhir dengan Minke yang ditangkap di rumahnya sendiri.Buku ini mengajarkan pembacanya untuk memperjuangkan hak mereka dan memajukan budaya Indonesia yang baik Jika dihubungkan dengan kehidupan saat ini, sikap Minke memang patut untuk dicontoh Minke yang pantang menyerah dan selalu memperjuangkan apa yang ia percayai bisa kita dijadikan contoh dan diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari Dalam era globalisasi ini, kita juga harus memperjuangkan hak kita sebagai pribumi Banyak pribumi yang kurang unggul dalam memenangkan persaingan di dunia pekerjaan karena tingkat pendidikan mereka yang rendah. Gue sebenarnya bingung mau ngasih buku yang satu ini angka berapa, tapi gue bulatkan tekad untuk ngasih 4 bintang untuk buku yang satu ini Jejak Langkah adalah buku ketiga dari tetralogi Buru.Jejak Langkah bercerita tentang sejarah berdirinya beberapa organisasi besar di awal masa perjuangan Indonesia Sebut saja Boedi Oetomo, Sjarikat Dagang Islamijah dan lain sebagainya To be honest, di pelajaran sejaran Indonesia, periode ini adalah periode yang paling gue benci perjuangan Indonesia di kalangan terpelajar Namun bukan hanya itu saja, sisi manusia Minke tetap menjadi sorotan Seorang pria yang memiliki mimpi namun di beberapa aspek kehidupannya, menurut gue sedikit labil Hanya saja, gue memang sangat menghargai seorang Minke, setidaknya, walaupun dia keras kepala luar biasa, dia tetap mau mengambil langkah awal untuk memulai segala sesuatu.Apa yang gue rasa in waktu baca buku ini adalah gimana untuk bisa mengubah dunia diperlukan satu langkah awal Sama seperti yang dikatakan oleh Neil Amstrong, one step of a human a big leap for mankind Semakin kesini, gue jadi semakin mengerti mengapa buku ini sempat dilarang untuk beredar Buku ini bersifat sangat netral menurut gue , karena bisa menuding baik pihak penjajah maupun pihak pemerintah Dari buku ini juga gue belajar, bahwa negara ini nggak punya salah apa apa, yang salah adalah motivasi yang dimiliki manusia manusia pembentuknya.Selalu juga, gue sangat senang dengan filsafatnya dan tentu saja, gaya menulis Pramoedya yang sangat khas.Empat bintang dari gue. Jejak Langkah dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim piatu dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya Minke, 2 Ilmu pengetahuan, Tuan tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi Sehebat hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat hebat manusia dia pun tidak berpribadi Tetapi sesederhana sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya Von Kollewijn, 32 Persahabatan lebih kuat dari pada panasnya permusuhan Bunda Minke, 46 Dahulu, nenek moyangmu selalu mengajarkan, tidak ada yang lebih sederhana daripada hidup lahir, makan minum, tumbuh, beranak pinak dan berbuat kebajikan Bunda, 65 Setiap hak yang berlebihan adalah penindasan Minke, 82 Orang Belanda sering membisikkan berbahagialah mereka yang bodoh, karena dia kurang menderita Berbahagialah juga kanak kanak yang belum membutuhkan pengetahuan untuk dapat mengerti Minke, 113 Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri Minke, 113 Apa bisa diharapkan dari mereka yang hanya bercita cita jadi pejabat negeri, sebagai apapun, yang hidupnya hanya penantian datangnya gaji Minke, 163 Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas kertas tentangnya Kalau dia tak mengenal sejarahnya Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya Minke, 202 Berbahagialah dia yang tak tahu sesuatu Pengetahuan, perbandingan, membuat orang tahu tempatnya sendiri, dan tempat orang lain, gelisah dalam alam perbandingan 203, Minke Setiap permulaan memang sulit Dengan memulai setengah pekerjaan sudah selesai, kata pepatah Van Heutsz, 264 bila akar dan batang sudah cukup kuat dan dewasa, dia akan dikuatkan oleh taufan dan badai Raden Tomo, 277 Jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit bandit yang sejahat jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya Frischboten, 291 Tetapi manusia pun bisa mengusahakan lahirnya syarat syarat baru, kenyataan baru, dan tidak hanya berenang diantara kenyataan kenyataan yang telah tersedia Minke, 339 Semua ditentukan oleh keadaan, bagaimanapun seseorang menghendaki yang lain Yang digurun pasir takkan menggunakan bahtera, yang di samudera takkan menggunakan onta Minke, 394 Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu Semua puji pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan Minke, 430 Di balik setiap kehormatan mengintip kebinasaan Di balik hidup adalah maut Di balik persatuan adalah perpecahan Di balik sembah adalah umpat Maka jalan keselamatan adalah jalan tengah Jangan terima kehormatan atau kebinasaan sepenuhnya Jalan tengah jalan ke arah kelestarian Minke, 442 Aku lari ke belakang, cepet cepet mandi Masuk ke kamar,mengenakan pakaian kemarin Semua telah terkunci di dalam kopor atau lemari Kotak kunci pun terkunci Anakkunci dibawa Prinses tak tahu lagi aku bagaimana kemunculanku Destar aku pasangkan sekenanya Dan selopnya yang sebelah. ah kau selop, dimana pula kau bersembunyi Mengapa pula kau ikut ikutan mengganggu aku Rupa rupanya anak anjing tetangga sebelah telah menyembunyikannya, atau menggondolnya Piaaaaah Selop Mana selop.Tak dapat aku melangkah menuruni jenjang sambil berpaling padanya Dia mutiara yang tak pernah aku kenal selama ini Prinses telah mendidiknya.Tak aku sadari kakiku tak berselop.Ini adalah sebuah hari yang baru..Tahun 1900, STOVIA dan Ang San Mei, 3 hal pembuka yang mewarnai jalan hidup Minke Lewat Jejak Langkah, Max Tullenaar alias Minke mulai mengkoordinir dalam organisasi dan jurnalistik sebagai bentuk usaha dari apa yang bisa dia berikan bagi bangsanya. sebuah bangsa yang bahkan belum memiliki nama. semua hal ini pasti ada kesulitan organisasi pertama yang ia dirikan beranggotakan para priyayi statis, tak punya gairah hidup, ingin menghabiskan hidup dengan tenang dalam dinas Gubermen dan Medan koran Pribumi berbahasa Melayu pertama yang didirikannya, mendapat pengawasan ketat dari Gubermen serta gangguan dari gerombolan De Knijpers, T.A.I, danDe Zweep yang tak lain Robert Suurhof, salah satu dalangnya Kisah yang semakin membuat ku terperosok pada zaman yang terjadi ketika itu tentang pekik hiroik yang diteriakkan para pejuang Aceh dan Bali, tentang kisah gadis Jepara, dan lagi Minke dengan kisah cintanya Bunga Akhir Abad, Ang San Mei. dan Prinses Kasiruta. Dua diantaranya sudah pergi meninggalkannya..satu peristiwa diujung cerita memaksa Minke untuk meninggalkan apa yang dimilikinya, Apakah Minke akan meninggalkan sang Putri Maluku ini juga..