( Free E-pub ) ♷ Bumi Manusia ☭ MOBI eBook or Kindle ePUB free

Cerita..selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya Ya biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa ataupun hantu Dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia. jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana biarpun penglihatanmu setajam mata elang pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka daripada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia Aku adalah manusia Tentu yang tak sempurna Karena kealpaan dan lupa tak bisa lepas dariku Aku hanyalah manusia biasa Aku bukanlah dewa dengan segala ke Maha annya Sempurna adalah kata yang tidak untukku.Namaku Minke, setidaknya itulah sapaan orang orang ketika memanggilku Saking terlalu seringnya nama itu digunakan, hingga aku hampir lupa nama asliku Nama yang diberikan oleh Bunda dan Ayanda yang dengan bersusah payah akhirnya berhasil menjadi Bupati B Sebagai keturunan priyayi Jawa, aku beruntung bisa mengenyam pendidikan ala Eropa Ilmu pengetahuannya, budayanya, pergaulannya, bahasanya serta segala hal yang berbau Eropa Aku begitu kagum akan peradaban dan budaya mereka Hingga hampir hampir tak lagi berdiri di atas tanah budaya sendiri Ironis memang, tetapi itulah yang mungkin akan terjadi padaku kalau saja tak terjadi peristiwa ituSebagai lelaki normal, wajarlah kiranya ketika kujatuh hati pada seorang perempuan Apalagi perempuan yang kecantikannya ibarat dewi Cantik, lembut namun rapuh Aku mabuk karena kecantikannya dan cintanya Hingga membuatku tak sadar, jatuh semakin dalam Sebuah hubungan yang tulus, tanpa menyadari hukum, peraturan, kasta, etnis, bangsa dan pandangan orang lain dan dunia Tak kudengarkan lagi nasihat para guru dan orangtua sendiri Aku terjerat, terikat, terpenjara Pribumi adalah bundaku Bunda yang melahirkanku, memberiku dasar budaya, adat dan darah Jawa ini Bunda yang telah memberiku kehidupan Pribumi juga adalah Mamaku Seorang wanita cerdas yang menjadi pintar secara otodidak Perempuan biasa yang menjadi keras karena pengalaman hidup Seorang Mama yang membuatku begitu mengaguminya Eropa adalah guruku Aku belajar dari mereka Aku melihat dunia dari mereka, hingga aku lebih sering berlisan dengan bahasa mereka Tetapi seperti apapun aku tetaplah seorang pribumi Pribumi yang hanya dijadikan alat bangsa Eropa untuk meninggikan kejayaan mereka, sementara di pihak lain kami kaum pribumi akan semakin direndahkan derajatnya hingga ke jauh ke dalam tanah.Batinku berontak, harga diriku berteriak Apakah ini arti dari semua yang telah kupelajari dari kalian wahai bangsa Eropa Apalah artinya semua ilmu, pengetahuan, sopan santun, hukum dan keadilan yang telah mereka ajarkan Ketika keadilan itu hanya berlaku bagi kaum mereka sendiri Ketika hukum hanya melindungi ras kulit putih sendiri Dan ketika batas antara Eropa dan pribumi tetap tak dapat terlampaui Ketika kaum penjajah kolonial tetap akan menginjakkan kaki mereka di atas kepala kaum pribumi pemilik negeri sendiri Apakah akan selamanya seperti itu Bumi manusia Manusia dgn segala problematikanya Sebuah novel tentang seorang seorang keturunan priyayi Jawa yang mengenyam pendidikan ala Eropa Sebuah pergolakan batin ketika ia berada di antara pertentangan antara apa yang dinamakan dengan modern dan tradisi Apakah harus memilih cinta, cita cita ataupun keluarga Pun jua ketika dihadapkan pada batasan antara pribumi dan Eropa Hukum, keadilan dan semuanya.Sebuah novel yang cukup berani Humanis Melihat manusia dengan segala sisinya Karena memang ini adalah Bumi manusia Tak salahlah kalau novel ini banyak meraih penghargaan dari berbagai lembaga dan negara Juga berulangkali diterbitkan di dicetak ulang dalam berbagai bahasa di dunia Bahkan kalau tak salah, karena novel ini Pramoedya pernah beberapa kali dinominasikan meraih nobel sastra Satu pertanyaan menggelitik kepala Kenapa novel ini pernah sampai dilarang peredarannya Sepanjang saya membaca novel ini menurut pandangan saya pribadi, tiadalah unsur sosialis, komunis, mengancam ketahanan negara dan semacamnya Suatu keanehan memang Tetapi bukankah Indonesia memang adalah negeri yang penuh anomali Bumi manusia mengajak kita untuk berpikir dan merenung Walaupun settingnya di era kolonial Belanda Masih cocok dengan kondisi sekarang Kebaikan dan keburukan manusia, diskriminasi, keadilan dan ketidak adilan hukum, mengutamakan kepentingan kelompok golongan tertentu, pemerasan, penjajahan dan pembatasan kemerdekaan, dan sebagainya Kalau kita renungi, hingga masa kini pun itu semua masih terjadi bukan Bedanya tidak lagi antara Eropa dan pribumi Tetapi antara sesama pribumi anak negeri Hmm mungkin saja itu jadi salah satu jawaban dari pertanyaan yang menggelitikku tadi Mungkin Dan itu mungkin saja loh Erry This book English title The Earth of Mankind was recommended by an academic friend who learned Indonesian to read it in the author s native language impressive The subject is serious a love affair between a pure blood Javanese and a mixed race Indo set against the backdrop of the emergence of Indonesian anti colonial sentiment near the start of the 20th century Unfortunately, I found the almost soap opera ish style hard to get accustomed to. Pretty awful as a work of literary fiction or else a truly terrible translation of a masterpiece , but interesting as an anthropological document of colonial era Java. This Earth of Mankind is the first novel of the Buru Quartet, so called because it was composed when Pramoedya Ananta Toer was a political prisoner on Buru Island in the 60s I say composed rather than written because the first version of it was told orally to his fellow prisoners He had apparently just about finished the research and planning when he was arrested and all his notes and books were destroyed.Which is an immediately intriguing back story, although the relationship between the novel and his imprisonment is not particularly direct, in that Pramoedya was imprisoned by Suharto s military dictatorship as part of an anti Communist purge, whereas the novel is set at the very end of the C19th 1898, in fact in a Java which is part of the Dutch East Indies.Still, it is, among other things, a clearly political novel it deals with the political awakening of a young man growing up in a society structured as a formal racial hierarchy, with Natives at the bottom, Pures i.e Europeans at the top, and a layer of Indos Indo European, mixed race stuck in the middle, operating as a local elite.The hero of the novel is a Native, but an unusually privileged one because of the importance of his family, he is the only Native at an elite high school for Europeans and Indos So he s awkwardly positioned in between worlds, brought up to believe that his European education makes him better than other Natives But of course when he comes into conflict with the establishment, he discovers how fragile his privilege is, and how much he is dependent on the goodwill of the colonial powers.I enjoyed it it reminded me rather of one of those European novels from between the world wars, with a whiff of melodrama, and characters having long wordy conversations about ideas Slightly old fashioned, but in a good way I m certainly tempted to pick up the second in the quartet This Earth of Mankind is my book from Indonesia for the Read The World challenge it feels very weird to keep capitalising Native like that, but I m following the practice of the novel, or the translation, which capitalises the racial terms to emphasise their formal legal status. ( Free E-pub ) ♁ Bumi Manusia ☪ Roman Tetralogi Buru Mengambil Latar Belakang Dan Cikal Bakal Nation Indonesia Di Awal Abad KeDengan Membacanya Waktu Kita Dibalikkan Sedemikian Rupa Dan Hidup Di Era Membibitnya Pergerakan Nasional Mula Mula, Juga Pertautan Rasa, Kegamangan Jiwa, Percintaan, Dan Pertarungan Kekuatan Anonim Para Srikandi Yang Mengawal Penyemaian Bangunan Nasional Yang Kemudian Kelak Melahirkan Indonesia ModernRoman Bagian Pertama Bumi Manusia, Sebagai Periode Penyemaian Dan Kegelisahan Dimana Minke Sebagai Aktor Sekaligus Kreator Adalah Manusia Berdarah Priyayi Yang Semampu Mungkin Keluar Dari Kepompong Kejawaannya Menuju Manusia Yang Bebas Dan Merdeka, Di Sudut Lain Membelah Jiwa Ke Eropa An Yang Menjadi Simbol Dan Kiblat Dari Ketinggian Pengetahuan Dan PeradabanPram Menggambarkan Sebuah Adegan Antara Minke Dengan Ayahnya Yang Sangat Sentimentil Aku Mengangkat Sembah Sebagaimana Biasa Aku Lihat Dilakukan Punggawa Terhadap Kakekku Dan Nenekku Dan Orangtuaku, Waktu Lebaran Dan Yang Sekarang Tak Juga Kuturunkan Sebelum Bupati Itu Duduk Enak Di Tempatnya Dalam Mengangkat Sembah Serasa Hilang Seluruh Ilmu Dan Pengetahuan Yang Kupelajari Tahun Demi Tahun Belakangan Ini Hilang Indahnya Dunia Sebagaimana Dijanjikan Oleh Kemajuan Ilmu Sembah Pengagungan Pada Leluhur Dan Pembesar Melalui Perendahan Dan Penghinaan Diri Sampai Sedatar Tanah Kalau Mungkin Uh, Anak Cucuku Tak Kurelakan Menjalani Kehinaan Ini Kita Kalah, Ma, Bisikku Kita Telah Melawan, Nak, Nyo, Sebaik Baiknya, Sehormat Hormatnya Three stars because it introduced me to a slice of Javanese Indonesian history and Dutch colonialism there, but was a difficult read at times Though Toer takes a pretty clear side against the Dutch and its imperialism, he gives acomplex telling and analysis of Javanese life However, the language felt a bit old which it is , and so got got a little repetitive and dry Still, it s worth reading and admiring the clarity that Toer had at the time in looking at his country. In all honesty, I didn t like the novel as much as I liked the other two required reading novels for Oriental Literature class, The Temple of the Golden Pavilion and The Rope of Ash , nor do I think it is as impressive as the other Asian Literary works that we have read in class, like the short stories of Lu Xun The first few parts actually didn t get my attention There are points in the story that I asked myself where the book was getting at or what it is trying to say I know it is a post colonial literature, so naturally I was looking for a Political commentary but was disappointed that I got a love story that lacks backbone Minke and Annelies fell inlove immediately after they met and I am not really a fan of the kind of story I was annoyed by Annelies She was being immature and helpless She was very anti feminist and she doesn t do much except become sick and follow Minke around She was so weak and needy But I liked reading about everyone else, especially the European friends of Minke, who supplied the information about colonial Indonesia The Mellema s family doctor, Dr Martinet, who explained the condition of Annelies and what the author was trying to communicate when he wrote about Annelies, and the La Croix sisters who were trying to help Minke become a successful Javanese who could lead Indonesia to rebel against Dutch rule They supplied vital ideas and information not only to Minke but to the readers as well I liked that I get to learn about the condition of Java during the Dutch rule and was sad to discover that their condition is as worse as the Philippines have experienced during the Spanish, Japanese and American rule The natives, although it is their land, are being oppressed by the colonizers, the trespassers The natives are being denied of their rights in their own land and the colonizers thinking that they are superior in every way I think the writer was brilliant when he wrote this story as a love story to hide his political commentaries As a result, it wasn t nauseating to read, unlike other political novels.The Malay culture isn t really presented much, either There is no vivid picture on what Java is like before the Dutch conquered Indonesia, except when Minke s family would appear in the book, like Minke and Annelies wedding The author gave a very vivid picture of the event and it was very exciting to read because their customs, when it comes to weddings are different from what we have here in the Philippines What I like most about reading the novel is that I get to learn about Indonesia the History and their Culture It is a part of Asia, of home, that, in all honesty, I wasn t very familiar with I have been reading too much Western novel and I was surprise that I found this book rather strange when I m Asian and a Malay at that We are very Western indeed and it is sad that we did not keep our culture Our culture is probably as colourful or as different as that of other Asian countries and if we kept our culture, it would probably keep us grounded, just like what the Malayan culture has made Minke and Nyai as they are Their education is that of the West but their heart and morals remained Javanese That made them not just tough, but humble as well Robert Mellema has the the mind of a Westerner and look at what happened to him Nyai and Minke, although defeated, fought with dignity and fought for what they believe is right and fair I think, this is a call for Indonesia, and maybe to all parts of Asia, to fight against Western rule The author thinks it is okay to be educated by the West because the Asians could use this education as a tool for rebellion but it is also important to keep our Asian morals that is unique Our morals, our culture and traditions not only defines our identity as Asians but it keeps us grounded, always reminding as that it is not power that we want but Freedom Freedom to practice our religion, our culture, our tradition Freedom to live and rule our own land Freedom to be who we are I m not a very good writer, am I P This is a long delayed review, partly because I must admit I never finished reading it and partly because I so wanted to like this Indonesian author having read about his time as a political prisoner in the 1960s As a history teacher, I did appreciate how Ananta Toer captures 19th Century colonial life and the caste like system that was instituted by the Dutch The romantic story between the native Javanese boy and the mixed race girl at the centre of the novel, however, did not feel realistic to me and that is why time and time again I could only read a chapter or two before putting the book down. I got this book to read while I was on Java I didn t dislike it, but it definitely dragged I was also hoping for something that would give meof a feel for the island than this did,akin to The Gift of Rain or Midnight in the Garden of Good and Evil in terms of being really steeped in the setting. Dulu seorang teman pernah berkata Jika Amerika memiliki F.C Fitzgerald, Perancis memiliki Victor Hugo, Rusia memiliki Fyodor Dostoyevsky, Jerman memiliki Johann Wolfgang von Goethe dan Jepang memiliki Haruki MurakamiMaka, Indonesia memiliki seorang Pramoedya Ananta Toer Penasaran, karena saya sudah baca beberapa karya sastra dunia, tapi baru sedikit karya sastra Indonesia yang saya baca Maka pada suatu kesempatan saya sempatkan membaca karya Pramoedya yang paling dikenal Bumi Manusia Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Pulau buru yang menceritakan tentang pertentangan batin yang dialami seorang intelektual Indonesia pada masa pra kemerdekaan bernama Minke terinspirasi dari RM Tirto Adisuryo Bersama Minke kita sebagai pembaca diajak untuk mengalami langsung serta terlibat dalam masa perjuangan pra kemerdekaan Indonesia, juga tentang pandangannya terhadap pendidikan serta bagaimana pendidikah dapat merubah derajat manusia dan juga nasib bangsanya.Naskah cerita ini dibuat pada masa Pram diasingkan di penjara Pulau Buru Setelah naskah ini berkali kali disembunyikan, kejar kejaran sama sipir, sampai mungkin dikubur di dalam tanah, disita, ditulis ulang kembali, diceritakan dari mulut ke mulut oleh kawan kawan Pram di penjara, kemudian ada juga sebagian dari naskahnya yang diselundupkan ke luar negeri Australia sampai pada akhirnya diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia pada tahun 1975 Setelah membaca bukunya, saya menjadi begitu paham arti dari kebesaran nama seorang Pramoedya Ananta Toer Pram yang lebih lama menghabiskan hidupnya dalam penjara, yang mencoba menulis jejak langkah pemikirannya agar tetap abadi, tidak hilang ditelan jaman Ternyata, nama besarnya memang bukan cuma isapan jempol belaka.Memang pantaslah jika buku ini disebut sebut sebagai karya sastra terbesar Indonesia Pantaslah jika buku ini mendapat 12 perhargaan internasional dan memang pantas. jika karya sastra Indonesia yang satu ini, disejajarkan dengan karya karya besar sastra dunia.